Makalah psikologi pendidikan. Kecerdasan Manusia Dalam Belajar
Kecerdasan
Manusia Dalam Belajar
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat serta Karunia-Nya
kepada kami, sehingga kami berada dalam keadaan sehat wal’afiat dan berkat rahmat-Nya
pula, kami dapat menyelesaikan makalah tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan
makalah ini dengan kerja keras dan dukungan dari berbagai macam pihak kami
berusaha untuk dapat memberikan yang terbaik dan sesuai dengan harapan,
walaupun didalam pembuatannya kami mengalami kesulitan karena keterbatasan ilmu
pengetahuan dan keterampilan yang kami miliki.
Oleh karena itu pada
kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak
Iskandar,M.Pd.,Ph.D selaku dosen pengampu Pisikologi Pendidikan. Dan juga
kepada teman-teman yang telah memberikan
dukungan dan dorongan kepada kami
Penulis menyadari bahwa
dalam menyusun makalah ini masih jauh dari kesempurnaan untuk itu penulis
sangat mengharapkan keritik dan saran
yang bersifat membangun guna kesempurnaannya makalah ini.penulis berharap
semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi
penulis dan khusus nya bagi pembaca pada umumnya
Muaro Jambi, oktober 2018
Penulis
BAB
1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Potensi sumber daya manusia merupakam aset
nasional sekaligus sebagai modal dasar pembangunan bangsa. Potensi ini hanya
dapat di gali dan dikembangkan serta dipupuk secara efektif melalui strategi
pendidikan dan pembelajaran yang terarah dan terpadu, yang dikelola secara
serasi dan seimbang dengan meperhatikan pengembangan potensi peserta didik
secara utuh dan optimal. Karena itu,strategi manajemen pendidikan perlu secara
khusus memperhatikan pengembangan potensi peserta didik yang memiliki kemampuan
dan kecerdasan luar biasa (unggul),yaitu dengan cara penyelenggaraan program
pembelajaran yang mampu mengembangkan keunggulan-keunggulan tersebut baik
keunggulan intelektual ataupun bakat khusus yg bersifat keterampilan untuk
itulah materi ini sangat penting di pelajari .
B. Rumusan
Masalah
a. Apa
definisi inteligensi?
b. Apa
itu bakat dan kecerdasaan ?
c. Apa Konsep Keseimbangan IQ, EQ, dan SQ dalm Proses
Pembelajaran?
d. Apa
perkembangan dan pengaruh inteligensi terhadap keberhasilan belajar?
e. Apa
kecerdasan menurut alquran ?
C. Tujuan
a. Untuk
mengetahui definisi inteligensi
b. Untuk
mengetahui apa itu bakat dan kecerdasaan sekaligus perbedaannya
c. Untuk mengetahui Konsep Keseimbangan IQ,
EQ, dan SQ dalm Proses Pembelajaran
d. Untuk
mengetahui perkembangan dan pengaruh inteligensi terhadap keberhsilan belajar
e. Untuk
mengetahui kecerdasan menurut alquran
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Inteligensi
Istilah inteligensi berasal dari kata latin
“intillegere” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain (to
organize ,to relate,to bind together) (Walgito, 1997). Dalam bahasa Arab,
inteligensi disebut dengan ad-dzaka yang berarti pemahaman, kecepatan, dan
kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (al-qudrah) dalam memahami sesuatu
secara cepat dan sempurna (Murad, dalam Mujib dan Mudzakir, 2002).
Inteligensi sering diartikan dengan
kecerdasan. Istilah “cerdas” sendiri sudah lazim dipergunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Bila seseorang tahu banyak hal, mampu belajar cepat, serta
berulang kali dapat memilih tindakan yang efektif dalam situasi yang rumit,
maka disimpulkan bahwa ia orang yang cerdas. Meski fenomena yang dipelajari
sama, namun para psikoloq yang mempelajari inteligensi memberikan pengertian
yang berbeda-beda.[1]
B.
Bakat
dan Kecerdasan Peserta Didik
Bakat
dan kecerdasan merupakan dua hal yang berbeda,
namun saling terkait. Bakat adalah kemampuan yang merupakan sesuatu yang
melekat (inheren), dalam diri seseorang. Bakat peserta didik dibawa sejak lahir
dan terkait dengan struktur otaknya. Secara genetic struktur otak telah
terbentuk sejak lahir, tetapi berfungsinya otak sangat ditentukan oleh cara
peserta didik berinteraksi dengan lingkungannya. Biasanya kemampuan atau
inteligensi (intelligence quotient)
merupakan modal awal untuk bakat tertentu.
Potensi bahwa peserta didik sampai
menjadi bakat berkaitan dengan kecerdasan intelektual (IQ) peserta didik.
Tingkat intelektualitas peserta didik yang intelektualitasnya tinggi tidak
selalu menunjukkan peserta didik berbakat. Bakat seni dan olahraga misalnya, keduanya
memerlukan strategi, taktik, dan logika yang berhubungan dengan kecerdasan.
Dengan demikian, umumnya peserta didik berbakat memang memiliki tingkat
inteligensi diatas rata-rata.
Peserta didik berbakat adalah
peserta didik yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai
kemampuan-kemampuan yang unggul.
Kemampuan-kemampuan
tersebut meliput.
1. kemampuan
intelektual
2. kemampuan
akademik khusus
3. kemampuan
berpikir kreatif-produktif,
4. kemampuan
memimpin
5. kemampuan
dalam salah satu bidang seni
6. kemampuan
pisikomotor
Selain itu, masih ada faktor lain yang juga
turut menentukan perkembangnganpotensi peserta didik menjadi bakat ,yakni
kecerdasan emosi [emotional quotent]
peserta didik yang control emosi nya bagus akan lebih baik dalam mengembangkan
bakat yang ia miliki misalnya,ketika ia mempuyai bakat menyanyi pada saat harus
naik pentas ia akan menyanyi dengan penuh percaya diri . Artinya baik IQ dan EQ
berperan menunjang keberhasilan peserta didik dalam mengembangkan potensinya
menjadi bakat.
Bakat peserta didik biasanya juga berkaitan
dengan bakat orang tua,sekitar 60% bakat peserta didik diturunkan dari orang
tua dan selebihnya di pengaruhi dari faktor lingkungan .bakat turunan bisa
didekteksi dengan cara membandingkan peserta didik dengan peserta didik
lain.peserta didik berbakat lebih cepat berkembang ketimbang dari peserta didik lain seusianya.
Kecerdasan peserta didik
Howerd Gardner [1993] menegaskan bahwa skala
kecerdasan yang selama ini dipakai ,ternyata memiliki banyak keterbatasan sehingga
kurang dapat meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang.Menurut
Gardener kecerdasan seseorang meliputi
unsur-unsur
1. kecerdasan
logis matematis
Kecerdasan logis matematis yiaitu memuat
kemampuan seseorang dalam berfikir secara indukatif dan deduktif,berfikir
menurut aturan logika memahami dan menganalisis pola angka-angka serta
memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berfikir.
2. kecerdasan
bahasa
Kecerdasan bahasa memuat kemampuan
sesorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata,baik secara tertulis ataupun
lisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk memngekspresikan gagasan-gagasan
nya.
3. kecerdasan
musical
Kecerdasan musical yaitunkemampuan
seseorang untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada di sekeliling
nya ,termasuk dalam hal ini adalah nada dan irama .
4. kecerdasan
visual-spasial
Kecerdasan visual-spasial yaitu
kemampuan sesorang untuk memahami secara lebih mendalam hubungan atara objek
dan ruang.
5. kecerdasan
kinestetis
Kemampuan seseorang untuk secara aktif
menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuh nya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai
masalah
6. kecerdasan
interpersonal
Kecerdasan interpersonal menunjukan
kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain
7. kecerdasan
intarpersonal
Kecerdasan intrapersonal menjukan
kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri.
8. kecerdasan
naturalis
kecerdasan naturalis ialah kemampuan
seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam[2]
C.Konsep
Keseimbangan IQ, EQ, dan SQ dalm Proses Pembelajaran
Kecerdasan intelektual (IQ) yang
tinggi tidak menjamin seseorang dapat meraih kesuksesan sesuai yang dia
inginkan. Karena seseorang yang mempunyai tingkat intelektualitas yang tinggi
namun memiliki kecerdasan emosi (EQ) yang rendah maka sering kali ia gagal karena
tidak bisa mengendalikan emosi, berempati dan bertindak sesuai dengan situasi
yang dihadapi. Namun, kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ)
harus dilandasi dengan kecerdasan spiritual (SQ) yang mengontrol segala
perilaku manusia baik sebagai makhluk individu maupun sosial. Oleh karena itu,
sekolah maupun perkuliahan sebagai salah satu lembaga pendidikan yang akan
memasok kebutuhan sumber daya manusia pada masyarakat, berusaha menghasilkan
lulusan yang tidak hanya unggul di bidangnya tapi juga memiliki sikap dan
perilaku yang beretika. Karena itu dalam sekolah dan perkuliahan juga diberikan
mata pelajaran yang menunjang terbentuknya karakter peserta didik seperti ;
agama, kewarganegaraan, dan kegiatan ekstrakulikuler yang ada di sekolah atau di
kampus.
D.Perkembangan dan
Pengaruh Inteligensi Terhadap Keberhasilan Belajar
Perkembangan Inteligensi dapat berubah
sepanjang waktu. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa inteligensi berubah
sebanyak 28 point antara usia 2,5 tahun hingga 17 tahun, bahkan sepertujuh dari
siswa dapat berubah hingga 40 point (McCall, Appelbaum & Hogarty, dalam
Eggen dan Kauchak, 1997). Perubahan ini dimungkinkan karena ada factor-faktor
yang mempengaruhinya.
Para ahli psikologi berbeda pendapat
tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan inteligensi. Isu yang
sering diperdebatkan adalah antara faktor genetik dan faktor lingkungan. Menurut sebagian ahli,
inteligensi sepenuhnya ditentukan oleh faktor genetik, sebagian ahli lain
berpendapat bahwa perkembangan inteligensi dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Akan tetapi, sebagian besar ahli justru mengambil posisi di tengah, mereka
meyakini bahwa inteligensi seseorang dipengaruhi oleh keduanya, yaitu pembawaan
dan juga lingkungan.
Meski sebagian besar ahli telah mendapat
bahwa faktor yang mempengaruhi perkembangan inteligensi adalah faktor genetik
dan lingkungan. Akan tetapi, mereka tetap berbeda pendapat tentang beberapa
banyak yang di sumbangkan oleh masing – masing faktor atau sejauh mana faktor –
faktor tersebut berpengaruh. Menurut sebagian ahli faktor, faktor yang paling
dominan berpengaruhi inteligensi adalah faktor pembawa. Hal ini dapat dipahami
karena orang terlahir dengan inteligensi yang sangat rendah tidak mungkin
ditingkatkan meski dengan lingkungan dan teknik pendidikan sebaik apapun. Akan
tetapi,faktor lingkungan berperan penting karena seseorang anak yang terlahir
jenius bila tidak mendapatkan pengasuhan pendidikan yang layak maka tidak akan
menjadi jenius.
Sejauh mana faktor genetik lingkungan
mempengaruhi perkembangan inteligensi
Ditunjukkan oleh penelitian-penelitian
terhadap bayi kembar.sebagian penelitian menunjukkan bahwa pengaruh faktor
genetik terhadap perkembangan inteligensi terutama adanya pertalian keluarga
ukuran IQ. Penelitian yang dilakukan oleh Erlenmeyer Kimling dan jarvik dan
juga jesson [ dalam
Elliot,2000] menunjukkan bahwa umumnya individu yang
mempuyai keluarga cendrung memiliki IQ yang relatif yang sama, dengan skor
korelasi untuk kembar identik 0,87, untuk kembar identik 0,53, untuk saudara
kandung 0,53, dan untuk yang tidak memiliki pertalian keluarga 0,23. Dalam
kaitannya dengan pengaruh faktor lingkungan terhadap perkembangan inteligensi,
penelitian yang sama menunjukkan bahwa pertalian keluarga yang hidup dalam
lingkungan yang sama korelasi skor IQ-nya tinggi (0,87), dan sebaliknya
pertalian keluarga yang hidup dalam lingkungan berbeda menunjukkan korelasi
skor IQ yang relatif lebih rendah (0,75). Dari berbagai penelitian yang
dilakukan disimpulkan bahwa pengaruh faktor genetik yang kuat terdapat pada
kinerja non-verbal dan pengaruh lingkungan yang kuat pada ekpresi bahasa.
Pengaruh inteligensi terhadap
keberhasilan belajar, seseorang diyakini sangat berpengaruh pada keberhasilan
belajar yang dicapainya. Berdasarkan hasil penelitian, prestasi belajar
biasanya berkolerasi searah dengan tingkat intelegensi. Artinya, semakin tinggi
tingkat intelegensi seseorang, maka semakin prestasi belajar yang dicapainya.
Bahkan menurut sebagian besar ahli, intelegensi merupakan modal utama dalam
belajar dan mencapai hasil yang optimal. Anak yang memiliki skor IQ dibawah 70
tidak mungkin dapat belajar dan mencapai hasil belajar seperti anak-anak dengan
skor IQ normal apalagi dengan anak-anak jenius.
Kenyataan menunjukkan bahwa setiap anak
memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut tampak
memberikan warna didalam kelas. Selama menerima pelajaran yang diberikan guru,
ada anak yang dapat mengerti dengan cepat yang disampaikan oleh guru, dan ada
pula anak yang lambat dalam menerima pelajaran, ada anak yang menyelesaikan
tugas-tugas yang diberikan oleh guru, ada yang lambat. Perbedaan individu
intelegensi ini perlu diketahui dan dipahami oleh guru, terutama dalam
hubungannya dengan pengelompokkan siwa. Selain itu, guru harus menyesuaikan
tujuan pembelajarannya dengan kapasitas intelegensi siswa. Perbedaan
intelegensi yang dimiliki oleh siswa bukan berarti memandang rendah pada siswa
yang kurang, akan tetapi guru harus mengupayakan agar pembelajaran yang ia
berikan dapat membantu semua siswa, tentu saja dengan perlakuan metode yang
beragam.
Selain itu, perbedaan tersebut juga
tamopak dari hasil belajar yang dicapai. Tinggi rendahnya hasil belajar yang
dicapai oleh siswa bergantung pada tinggi rendahnya inteligensi yang dimiliki.
Meski demikian, inteligensi bukan merupakan satu-satunya faktor yang
mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang[4].
Seperti yang telah dikemukakan bahwa banyak faktor yang yang dapat
mempengaruhinya. Yang terpenting dalam hal ini adalah guru harus bijaksana
dalam menyikapi perbedaan tersebut.
E.Kecerdasan Menurut Al-Quran
Apabila kita meneliti ayat-ayat al-Quran, kata-kata yang
memiliki arti kecerdasan, sebagaimana yang telah dijelaskan tersebut di atas,
yaitu al-Fathanah, adz-dzaka’, al-hadzaqah, an-nubl, an-najabah, dan
al-kayyis tidak digunakan oleh al-Quran. Definisi
Kecerdasan secara jelas juga tidak ditemukan, tetapi melalui kat-kata yang digunakan
oleh al-Qur’an dapat disimpulkan makna Kecerdasan. Kata yang banyak digunakan
oleh al-Quran adalah kata yang memiliki makna yang dekat dengan Kecerdasan,
seperti kata yang seasal dengan kata al-‘aql, al-lubb, al-fikr,
al-Bashar, al-nuha, al-fiqh, al-fikr, al-nazhar, al-tadabbur, dan al-dzikr.
Kata-kata tersebut banyak digunakan di dalam al-Quran dalam bentuk kata kerja,
seperti kata ta’qilun. Para ahli tafsir,
termasuk di antaranya Muhammad Ali Al-Shabuni, menafsirkan kata afala ta’qilun “apakah kamu tidak menggunakan
akalmu[5]”.
Dengan demikian Kecerdasan menurut al-Quran diukur dengan penggunaan akal atau
kecerdasan itu untuk hal-hal positif bagi dirinya maupun orang lain.
Kata-kata yang memiliki makna yang dekat (mirip) dengan
Kecerdasan yang banyak digunakan di dalam al-Quran adalah :
1.
Al–‘Aql, yang berarti an-Nuha (kepandaian,
kecerdasan).Akal dinamakan akal yang memilki makna menahan, karena memang akal
dapat menahan kepada empunya dari melakukan hal yang dapat menghancurkan
dirinya[6] .Kata ‘aql tidak
pernah disebut sebagai nomina (ism), tapi selalu
dalam bentuk kata kerja (fi’l). Di dalam
al-Quran kata yang berasal dari kata ‘aql berjumlah 49 kata, semuanya berbentuk fi’l mudhari’, hanya 1 yang berbentuk fi’l madhi. Dari banyaknya penggunaan kata-kata
yang seasal dengan kata ‘aql, dipahami
bahwa al-Quran sangat menghargai akal, dan bahkan Khithab Syar’i (Khithab hukum Allah) hanya
ditujukan kepada orang-orang yang berakal. Banyak sekali ayat-ayat yang
mendorong manusia untuk mempergunakan akalnya. Di sisi lain penggunaan kata
yang seasal dengan ‘aql tidak
berbentuk nomina (ism) tapi berbentuk kata kerja
(fi’l) menunjukkan bahwa al-Quran tidak hanya menghargai
akal sebagai kecerdasan intelektual semata, tapi al-Quran mendorong dan
menghormati manusia yang menggunakan akalnya secara benar. Sebagaimana yang
dikatakan oleh Sternberg yang dikutip oleh Agus Efendi, “Tes IQ sesungguhnya
bukan pada seberapa banyak kecerdasan yang anda miliki dalam otak anda. Akan
tetapi bagaimana anda menggunakan kecerdasan yang harus anda buat menjadi dunia
yang lebih baik bagi diri anda sendiri, dan orang lain” Walhasil, kecerdasan
bukanlah yang anda miliki, Kecerdasan lebih merupakan sesuatu yang anda gunakan. Itulah yang dimaksud dengan
kecerdasan majmuk sebagaimana disampaikan oleh Horward Gordner, kecerdasan yang
mencakup banyak aspek kehidupan, bukan kecerdasan intelektual semata.
Bentuk dari kata ‘aql yang dirangkaikan
dalam sebuah kalimat pertanyaan, seperti afala
ta’qilun (apakah kamu tidak menggunakan akalmu) terdapat 13
buah di dalam al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa Allah swt. mempertanyakan
kecerdasan mereka, dengan akal yang sudah diberikan.
2.
Al-Lubb atau al-Labib, yang bearti al-‘aql atau al-‘aqil,
dan al-labib sama dengan al-‘aql[7].
Di dalam al-Quran Kata al-albab disebut
16 kali, dan kesemuanya didahului dengan kata ulu atau uli yang artinya pemilik, ulu al-albab berarti pemilik akal.
3.
Al-bashar, yang berarti indra penglihatan, juga berarti ilmu[8]. Di dalam Kamus Lisan al Arab, Ibn
Manzhur mengemukakan bahwa ada pendapat yang mengatakan ; al-bashirah memiliki ma’na sama dengan al-fithnah (kecerdasan) dan al-hujjah(argumntasi[9]). Al-Jurjani mendefinisikan al-Bashirah, adalah suatu kekuatan hati yang
diberi cahaya kesucian, sehingga dapat melihat hakikat sesuatu dari
batinnya. Para ahli hikmah menamakannya dengan ; al-‘aqilah
an-nazhariyyah wa alquwwah al-qudsiyyah (kecerdasan
bepikir dan kekuatan suci atau ilahi).Abu Hilal al-‘Askari membedakan antara al-bashirah dan al-‘ilm (ilmu), bahwa al-bashirahadalah kesempurnaan ilmu dan pengetahuan.
Di dalam al-Quran, kata yang berasal dari kata al-bashar, dengan berbagai macam bentuk, jumlahnya
cukup banyak, yaitu berjumah 142 kata, yang berbentuk kata al-bashirberjumlah 53 kata, hampir kesemuanya menjadi
sifat Allah swt. kecuali 6 kata yang menjadi sifat manusia, 4 diantaranya
kata al-bashir menjelaskan perbedaan antara manusia
yang buta dan melihat. Sedangkan kata bashirah terdapat
pada 2 ayat, yaitu pada surah Yusuf : 108 dan al-Qiyamah : 14. sedangkan
kata bashair yaitu bentuk jama’ dari bashirah disebut dalam al-Quran sebanyak 5 kali.
Dalam menafsirkan kata bashirah yang
ada pada surat Yusuf : 108, al-Baghawi dan Sayyid Thanthawi menjelaskan
ma’na al-bashirah adalah pengetahuan yang dengannya
manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah.
Kata al-abshar yaitu bentuk jama’ dari al-bashar berjumlah
8 ayat, 3 diantaranya didahului kata ulu (mempunyai),
ya’ni Surah Ali Imran : 13, an-Nur : 44, dan al-Hasyr : 2.
4.
An-Nuha,ma’nanya sama dengan al-‘aql, dan
akal dinamakan an-nuha yang juga memiliki
arti mencegah, karena akal mencegah dari keburukan. Kata an-nuha di dalam al-Quran terdapat pada 2 tempat,
keduanya ada pada Surat thaha ; 54, 128 dan keduanya diawali dengan kata uli (pemilik).
5.
Al-fiqh yang berarti pemahaman atau ilmu. Di dalam al-Quran,
Kata yang seasal dengan al-Fiqh terdapat
pada 20 ayat, kesemuanya menggunakan kata kerja (fi’l mudhari’), hal
ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan pemahaman itu seharusnya dilakukan secara
terus menerus. Kata al-fiqh juga
berarti al-fithnah (kecerdasan).
6.
Al-Fikr, yang artinya berpikir. Kata yang seakar dengan al-fikr terdapat pada 18 ayat.Kesemuanya berasal
dari bentuk kata at-tafakkur, dan semuannya
berbentuk kata kerja (fi’l), hanya satu yang berbentuk
kata fakkara, yaitu pada Surat al-Mudatstsir : 18.
Al-Jurjani mendefinisikan, at-tafakkur adalah
pengerahan hati kepada makna sesuatu untuk menemukan sesuatu yang dicari,
sebagai lentera hati yang dengannya dapat mengetahui kebaikan dan keburukan[10].
7.
An-nazhar yang memiliki makna melihat secara abstrak (berpikir),
Di dalam kamus Taj al-‘Arus disebutkan termasuk makna an-nazhar adalah menggunakan mata hati untuk
menemukan segala sesuatu, an-nazhar juga
berarti al-i’tibar (mengambil pelajaran), at-taammul (berpikir),
al-bahts (meneliti)[11]. Untuk membedakan antara an-nazhar dan al-Ru’yah, Abu Hilal
al-‘Askari memberikan definisi bahwa al-nazharadalah mencari petunjuk, juga berarti melihat
dengan hati . Di dalam al-Quran terdapat kata yang seasal dengan an-nazhar lebih dari 120 ayat
8.
At-tadabbur yang semakna dengan at-tafakkur,
terdapat dalam al-Quran sebanyak 8 ayat. Al-Jurjani memberikan definisi at-tadabbur, adalah berpikir tentang akibat suatu
perkara, sedangkan at-tafakkur adalah
pengerahan hati untuk berpikir tentang dalil (petunjuk).
9.
Adz-dzikr yang berarti peringatan, nasehat, pelajaran. Dalam
al-Quran terdapat kata yang seasal dengan adz-dzikr berjumlah
285 kata, 37 diantaranya adalah yang berasal dari bentuk kata at-tadzakkur yang berarti mengambil pelajaran
Bab
III
Penutup
A. Kesimpulan
Inteligensi
dapat di artikan kecerdasan Istilah “cerdas” sendiri sudah lazim dipergunakan
dalam kehidupan sehari-hari. Bila seseorang tahu banyak hal, mampu belajar
cepat, serta berulang kali dapat memilih tindakan yang efektif dalam situasi
yang rumit, maka disimpulkan bahwa ia orang yang cerdas. Bakat dan keerdasan
merupakan dua hal yang berbeda, namun
saling terkait. Bakat adalah kemampuan yang merupakan sesuatu yang melekat
(inheren), dalam diri seseorang.
B.Saran
anak
yang memiliki inteligensi yang tinggi mereka harus lebih di optimalkan
kemampuannya banyak anak memiliki inteligensi tetapi tidak semuanya terlihat
dengan jelas.karena sebagian anak mereka hanya memendam kemampuannya dikarnakan
bidang yang di kuasai tidak di dukung pada pihak tertentu dan sebaik nya anak
tersebut di olah dengan sangat baik agar agar anak tersebut dapat mengikuti
perkembangan dengan baik dan benar
DAFTAR PUSTAKA
khodijah nyayu.2014.Psikologi Pendidikan
Jakarta;PTRajaGrafindo
Uno,Hamzah B.2014.Mengelola Kecerdasan Dalam Pembelajaran
Jakarta;PTBumiAngkasa
Iskandar.2009.psikologi pendidikan.jakarta;penerbit
referensi /
Gaung persada press
(pak-boedi.blogspot.com/2015/09/resume-buku-psikologi-pendidikan-oleh.html)
http://arhan65.wordpree.com
Al-Jurjani, at-Ta’rifat, .
Muhammad Ibn Muhammad Ibn Abd.
Al-Razzaq, Taj al-‘Arus min Jawahir al-Qamus,
(Al-Makatabah asy-Syamilah), Juz. 1
Muhammad Ali Al-Shabuni, Shafwah al-Tafasir, (Beirut, Dar al-Fikr, 1988),
Juz I
Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur
al-Afriqi al-Mashri, Lisan al-Arab
Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur
al-Afriqi al-Mashri, Lisan al-Arab,
(Beirut, dar Shadir, 1882), Cet. I, Juz 4,
Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan
Abad 21.
Muhammad
Ibn Abu Bakar al-Razi, Mukhtar ash-Shahah,(Beirut,
Maktabah Lubnan Nasyirun, 1995), Juz I
[1] Prof.Dr.nyayu
khodijah,s.ag.,m.si,pisikologiPendidikan(Jakarta,PTRajaGrafindo2014)hlm.89
[2] Prof.Dr.Hamzah
B.Uno,M.Pd.MengelolaKecerdasanDalamPembelajaran(Jakarta,PTBumiAngkasa2014)hlm.7-8
[4] Prof.Dr.nyayu
khodijah,s.ag.,m.si,pisikologiPendidikan(Jakarta,PTRajaGrafindo2014)hlm.99-102
[8] Muhammad Ibn Abu Bakar al-Razi, Mukhtar ash-Shahah,(Beirut,
Maktabah Lubnan Nasyirun, 1995), Juz I, h. 612
[9] Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur al-Afriqi
al-Mashri, Lisan al-Arab,
(Beirut, dar Shadir, 1882), Cet. I, Juz 4, h. 64.
[11] Muhammad Ibn Muhammad Ibn Abd. Al-Razzaq, Taj al-‘Arus min Jawahir al-Qamus,
(Al-Makatabah asy-Syamilah), Juz. 1, h. 3549.
Komentar
Posting Komentar