Makalah psikologi pendidikan. Kecerdasan Manusia Dalam Belajar

Kecerdasan Manusia Dalam Belajar



KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat serta Karunia-Nya kepada kami, sehingga kami berada dalam keadaan sehat wal’afiat dan berkat rahmat-Nya pula, kami dapat menyelesaikan makalah tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan makalah ini dengan kerja keras dan dukungan dari berbagai macam pihak kami berusaha untuk dapat memberikan yang terbaik dan sesuai dengan harapan, walaupun didalam pembuatannya kami mengalami kesulitan karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang kami miliki.
Oleh karena itu pada kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Iskandar,M.Pd.,Ph.D selaku dosen pengampu Pisikologi Pendidikan. Dan juga kepada teman-teman  yang telah memberikan dukungan dan dorongan kepada kami
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari kesempurnaan untuk itu penulis sangat mengharapkan  keritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaannya makalah ini.penulis berharap semoga  makalah ini bisa bermanfaat bagi penulis dan khusus nya bagi pembaca pada umumnya

                                                                                                                       
                                                                      Muaro Jambi,      oktober 2018

                             Penulis



BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
     Potensi sumber daya manusia merupakam aset nasional sekaligus sebagai modal dasar pembangunan bangsa. Potensi ini hanya dapat di gali dan dikembangkan serta dipupuk secara efektif melalui strategi pendidikan dan pembelajaran yang terarah dan terpadu, yang dikelola secara serasi dan seimbang dengan meperhatikan pengembangan potensi peserta didik secara utuh dan optimal. Karena itu,strategi manajemen pendidikan perlu secara khusus memperhatikan pengembangan potensi peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa (unggul),yaitu dengan cara penyelenggaraan program pembelajaran yang mampu mengembangkan keunggulan-keunggulan tersebut baik keunggulan intelektual ataupun bakat khusus yg bersifat keterampilan untuk itulah materi ini sangat penting di pelajari .
B.     Rumusan Masalah
a.       Apa definisi inteligensi?
b.      Apa itu bakat dan kecerdasaan ?
c.    Apa Konsep Keseimbangan IQ, EQ, dan SQ dalm Proses Pembelajaran?
d.      Apa perkembangan dan pengaruh inteligensi terhadap keberhasilan belajar?
e.      Apa kecerdasan menurut alquran ?

C.     Tujuan
a.       Untuk mengetahui  definisi inteligensi
b.      Untuk mengetahui apa itu bakat dan kecerdasaan sekaligus perbedaannya
c.       Untuk mengetahui Konsep Keseimbangan IQ, EQ, dan SQ dalm Proses Pembelajaran
d.      Untuk mengetahui perkembangan dan pengaruh inteligensi terhadap keberhsilan belajar
e.       Untuk mengetahui kecerdasan menurut alquran



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Inteligensi
    Istilah inteligensi berasal dari kata latin “intillegere” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain (to organize ,to relate,to bind together) (Walgito, 1997). Dalam bahasa Arab, inteligensi disebut dengan ad-dzaka yang berarti pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (al-qudrah) dalam memahami sesuatu secara cepat dan sempurna (Murad, dalam Mujib dan Mudzakir, 2002).
     Inteligensi sering diartikan dengan kecerdasan. Istilah “cerdas” sendiri sudah lazim dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bila seseorang tahu banyak hal, mampu belajar cepat, serta berulang kali dapat memilih tindakan yang efektif dalam situasi yang rumit, maka disimpulkan bahwa ia orang yang cerdas. Meski fenomena yang dipelajari sama, namun para psikoloq yang mempelajari inteligensi memberikan pengertian yang berbeda-beda.[1]

B.     Bakat dan Kecerdasan Peserta Didik
Bakat dan kecerdasan merupakan dua hal yang berbeda,  namun saling terkait. Bakat adalah kemampuan yang merupakan sesuatu yang melekat (inheren), dalam diri seseorang. Bakat peserta didik dibawa sejak lahir dan terkait dengan struktur otaknya. Secara genetic struktur otak telah terbentuk sejak lahir, tetapi berfungsinya otak sangat ditentukan oleh cara peserta didik berinteraksi dengan lingkungannya. Biasanya kemampuan atau inteligensi (intelligence quotient) merupakan modal awal untuk bakat tertentu.
            Potensi bahwa peserta didik sampai menjadi bakat berkaitan dengan kecerdasan intelektual (IQ) peserta didik. Tingkat intelektualitas peserta didik yang intelektualitasnya tinggi tidak selalu menunjukkan peserta didik berbakat. Bakat seni dan olahraga misalnya, keduanya memerlukan strategi, taktik, dan logika yang berhubungan dengan kecerdasan. Dengan demikian, umumnya peserta didik berbakat memang memiliki tingkat inteligensi diatas rata-rata.
            Peserta didik berbakat adalah peserta didik yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul.
Kemampuan-kemampuan tersebut meliput.
1.      kemampuan intelektual
2.      kemampuan akademik khusus
3.      kemampuan berpikir kreatif-produktif,
4.      kemampuan memimpin
5.      kemampuan dalam salah satu bidang seni
6.      kemampuan pisikomotor
    Selain itu, masih ada faktor lain yang juga turut menentukan perkembangnganpotensi peserta didik menjadi bakat ,yakni kecerdasan emosi [emotional quotent] peserta didik yang control emosi nya bagus akan lebih baik dalam mengembangkan bakat yang ia miliki misalnya,ketika ia mempuyai bakat menyanyi pada saat harus naik pentas ia akan menyanyi dengan penuh percaya diri . Artinya baik IQ dan EQ berperan menunjang keberhasilan peserta didik dalam mengembangkan potensinya menjadi bakat.
   Bakat peserta didik biasanya juga berkaitan dengan bakat orang tua,sekitar 60% bakat peserta didik diturunkan dari orang tua dan selebihnya di pengaruhi dari faktor lingkungan .bakat turunan bisa didekteksi dengan cara membandingkan peserta didik dengan peserta didik lain.peserta didik berbakat lebih cepat berkembang  ketimbang dari peserta didik lain seusianya.
     Kecerdasan peserta didik
Howerd Gardner [1993] menegaskan bahwa skala kecerdasan yang selama ini dipakai ,ternyata memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang dapat meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang.Menurut Gardener  kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur
1.      kecerdasan logis matematis
Kecerdasan logis matematis yiaitu memuat kemampuan seseorang dalam berfikir secara indukatif dan deduktif,berfikir menurut aturan logika memahami dan menganalisis pola angka-angka serta memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berfikir.
2.      kecerdasan bahasa
Kecerdasan bahasa memuat kemampuan sesorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata,baik secara tertulis ataupun lisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk memngekspresikan gagasan-gagasan nya.
3.      kecerdasan musical
Kecerdasan musical yaitunkemampuan seseorang untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada di sekeliling nya ,termasuk dalam hal ini adalah nada dan irama .
4.      kecerdasan visual-spasial
Kecerdasan visual-spasial yaitu kemampuan sesorang untuk memahami secara lebih mendalam hubungan atara objek dan ruang.
5.      kecerdasan kinestetis
Kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuh nya  untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah
6.      kecerdasan interpersonal
Kecerdasan interpersonal menunjukan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain
7.      kecerdasan intarpersonal
Kecerdasan intrapersonal menjukan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri.
8.      kecerdasan naturalis
kecerdasan naturalis ialah kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam[2]
C.Konsep Keseimbangan IQ, EQ, dan SQ dalm Proses Pembelajaran
Kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi tidak menjamin seseorang dapat meraih kesuksesan sesuai yang dia inginkan. Karena seseorang yang mempunyai tingkat intelektualitas yang tinggi namun memiliki kecerdasan emosi (EQ) yang rendah maka sering kali ia gagal karena tidak bisa mengendalikan emosi, berempati dan bertindak sesuai dengan situasi yang dihadapi. Namun, kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) harus dilandasi dengan kecerdasan spiritual (SQ) yang mengontrol segala perilaku manusia baik sebagai makhluk individu maupun sosial. Oleh karena itu, sekolah maupun perkuliahan sebagai salah satu lembaga pendidikan yang akan memasok kebutuhan sumber daya manusia pada masyarakat, berusaha menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul di bidangnya tapi juga memiliki sikap dan perilaku yang beretika. Karena itu dalam sekolah dan perkuliahan juga diberikan mata pelajaran yang menunjang terbentuknya karakter peserta didik seperti ; agama, kewarganegaraan, dan kegiatan ekstrakulikuler yang ada di sekolah atau di kampus.
D.Perkembangan dan Pengaruh Inteligensi Terhadap Keberhasilan Belajar
Perkembangan Inteligensi dapat berubah sepanjang waktu. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa inteligensi berubah sebanyak 28 point antara usia 2,5 tahun hingga 17 tahun, bahkan sepertujuh dari siswa dapat berubah hingga 40 point (McCall, Appelbaum & Hogarty, dalam Eggen dan Kauchak, 1997). Perubahan ini dimungkinkan karena ada factor-faktor yang mempengaruhinya.
Para ahli psikologi berbeda pendapat tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan inteligensi. Isu yang sering diperdebatkan adalah antara faktor genetik dan faktor  lingkungan. Menurut sebagian ahli, inteligensi sepenuhnya ditentukan oleh faktor genetik, sebagian ahli lain berpendapat bahwa perkembangan inteligensi dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Akan tetapi, sebagian besar ahli justru mengambil posisi di tengah, mereka meyakini bahwa inteligensi seseorang dipengaruhi oleh keduanya, yaitu pembawaan dan juga lingkungan.
Meski sebagian besar ahli telah mendapat bahwa faktor yang mempengaruhi perkembangan inteligensi adalah faktor genetik dan lingkungan. Akan tetapi, mereka tetap berbeda pendapat tentang beberapa banyak yang di sumbangkan oleh masing – masing faktor atau sejauh mana faktor – faktor tersebut berpengaruh. Menurut sebagian ahli faktor, faktor yang paling dominan berpengaruhi inteligensi adalah faktor pembawa. Hal ini dapat dipahami karena orang terlahir dengan inteligensi yang sangat rendah tidak mungkin ditingkatkan meski dengan lingkungan dan teknik pendidikan sebaik apapun. Akan tetapi,faktor lingkungan berperan penting karena seseorang anak yang terlahir jenius bila tidak mendapatkan pengasuhan pendidikan yang layak maka tidak akan menjadi jenius.
Sejauh mana faktor genetik lingkungan mempengaruhi perkembangan inteligensi
Ditunjukkan oleh penelitian-penelitian terhadap bayi kembar.sebagian penelitian menunjukkan bahwa pengaruh faktor genetik terhadap perkembangan inteligensi terutama adanya pertalian keluarga ukuran IQ. Penelitian yang dilakukan oleh Erlenmeyer Kimling dan jarvik dan juga jesson [ dalam Elliot,2000] menunjukkan bahwa umumnya individu yang mempuyai keluarga cendrung memiliki IQ yang relatif yang sama, dengan skor korelasi untuk kembar identik 0,87, untuk kembar identik 0,53, untuk saudara kandung 0,53, dan untuk yang tidak memiliki pertalian keluarga 0,23. Dalam kaitannya dengan pengaruh faktor lingkungan terhadap perkembangan inteligensi, penelitian yang sama menunjukkan bahwa pertalian keluarga yang hidup dalam lingkungan yang sama korelasi skor IQ-nya tinggi (0,87), dan sebaliknya pertalian keluarga yang hidup dalam lingkungan berbeda menunjukkan korelasi skor IQ yang relatif lebih rendah (0,75). Dari berbagai penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa pengaruh faktor genetik yang kuat terdapat pada kinerja non-verbal dan pengaruh lingkungan yang kuat pada ekpresi bahasa.
Pengaruh inteligensi terhadap keberhasilan belajar, seseorang diyakini sangat berpengaruh pada keberhasilan belajar yang dicapainya. Berdasarkan hasil penelitian, prestasi belajar biasanya berkolerasi searah dengan tingkat intelegensi. Artinya, semakin tinggi tingkat intelegensi seseorang, maka semakin prestasi belajar yang dicapainya. Bahkan menurut sebagian besar ahli, intelegensi merupakan modal utama dalam belajar dan mencapai hasil yang optimal. Anak yang memiliki skor IQ dibawah 70 tidak mungkin dapat belajar dan mencapai hasil belajar seperti anak-anak dengan skor IQ normal apalagi dengan anak-anak jenius.
Kenyataan menunjukkan bahwa setiap anak memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut tampak memberikan warna didalam kelas. Selama menerima pelajaran yang diberikan guru, ada anak yang dapat mengerti dengan cepat yang disampaikan oleh guru, dan ada pula anak yang lambat dalam menerima pelajaran, ada anak yang menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, ada yang lambat. Perbedaan individu intelegensi ini perlu diketahui dan dipahami oleh guru, terutama dalam hubungannya dengan pengelompokkan siwa. Selain itu, guru harus menyesuaikan tujuan pembelajarannya dengan kapasitas intelegensi siswa. Perbedaan intelegensi yang dimiliki oleh siswa bukan berarti memandang rendah pada siswa yang kurang, akan tetapi guru harus mengupayakan agar pembelajaran yang ia berikan dapat membantu semua siswa, tentu saja dengan perlakuan metode yang beragam.
Selain itu, perbedaan tersebut juga tamopak dari hasil belajar yang dicapai. Tinggi rendahnya hasil belajar yang dicapai oleh siswa bergantung pada tinggi rendahnya inteligensi yang dimiliki. Meski demikian, inteligensi bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang[4]. Seperti yang telah dikemukakan bahwa banyak faktor yang yang dapat mempengaruhinya. Yang terpenting dalam hal ini adalah guru harus bijaksana dalam menyikapi perbedaan tersebut.
E.Kecerdasan Menurut Al-Quran
Apabila kita meneliti ayat-ayat al-Quran, kata-kata yang memiliki arti kecerdasan, sebagaimana yang telah dijelaskan tersebut di atas, yaitu al-Fathanah, adz-dzaka’, al-hadzaqah, an-nubl, an-najabah, dan al-kayyis tidak digunakan oleh al-Quran.  Definisi Kecerdasan secara jelas juga tidak ditemukan, tetapi melalui kat-kata yang digunakan oleh al-Qur’an dapat disimpulkan makna Kecerdasan. Kata yang banyak digunakan oleh al-Quran adalah kata yang memiliki makna yang dekat dengan Kecerdasan, seperti kata yang seasal dengan kata al-‘aql, al-lubb, al-fikr, al-Bashar, al-nuha, al-fiqh, al-fikr, al-nazhar, al-tadabbur, dan al-dzikr. Kata-kata tersebut banyak digunakan di dalam al-Quran dalam bentuk kata kerja, seperti kata ta’qilun. Para ahli tafsir, termasuk di antaranya Muhammad Ali Al-Shabuni, menafsirkan kata afala ta’qilun  “apakah kamu tidak menggunakan akalmu[5]”. Dengan demikian Kecerdasan menurut al-Quran diukur dengan penggunaan akal atau kecerdasan itu untuk hal-hal positif bagi dirinya maupun orang lain.
Kata-kata yang memiliki makna yang dekat (mirip) dengan Kecerdasan yang banyak digunakan di dalam al-Quran adalah :
1.      Al‘Aql, yang berarti an-Nuha (kepandaian, kecerdasan).Akal dinamakan akal yang memilki makna menahan, karena memang akal dapat menahan kepada empunya dari melakukan hal yang dapat menghancurkan dirinya[6] .Kata ‘aql tidak pernah disebut sebagai nomina (ism), tapi selalu dalam bentuk kata kerja (fi’l). Di dalam al-Quran kata yang berasal dari kata ‘aql  berjumlah 49 kata, semuanya berbentuk fi’l mudhari’, hanya 1 yang berbentuk  fi’l madhi. Dari banyaknya penggunaan kata-kata yang seasal dengan kata ‘aql, dipahami bahwa al-Quran sangat menghargai akal, dan bahkan Khithab Syar’i (Khithab hukum Allah) hanya ditujukan kepada orang-orang yang berakal. Banyak sekali ayat-ayat yang mendorong manusia untuk mempergunakan akalnya. Di sisi lain penggunaan kata yang seasal dengan ‘aql tidak berbentuk nomina (ism) tapi berbentuk kata kerja (fi’l) menunjukkan bahwa al-Quran tidak hanya menghargai akal sebagai kecerdasan intelektual semata, tapi al-Quran mendorong dan menghormati manusia yang menggunakan akalnya secara benar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sternberg yang dikutip oleh Agus Efendi, “Tes IQ sesungguhnya bukan pada seberapa banyak kecerdasan yang anda miliki dalam otak anda. Akan tetapi bagaimana anda menggunakan kecerdasan yang harus anda buat menjadi dunia yang lebih baik bagi diri anda sendiri, dan orang lain” Walhasil, kecerdasan bukanlah yang anda miliki, Kecerdasan lebih merupakan sesuatu yang anda gunakan. Itulah yang dimaksud dengan kecerdasan majmuk sebagaimana disampaikan oleh Horward Gordner, kecerdasan yang mencakup banyak aspek kehidupan, bukan kecerdasan intelektual semata.
Bentuk dari kata ‘aql yang dirangkaikan  dalam sebuah kalimat pertanyaan, seperti afala ta’qilun (apakah kamu tidak menggunakan akalmu) terdapat 13 buah di dalam al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa Allah swt. mempertanyakan kecerdasan mereka, dengan akal yang sudah diberikan.
2.      Al-Lubb atau al-Labib, yang bearti al-‘aql atau al-‘aqil, dan al-labib sama dengan al-‘aql[7]. Di dalam al-Quran Kata al-albab disebut 16 kali, dan kesemuanya didahului dengan kata ulu atau uli yang artinya pemilik, ulu al-albab berarti pemilik akal.
3.      Al-bashar, yang berarti indra penglihatan, juga berarti ilmu[8]. Di dalam Kamus Lisan al Arab, Ibn Manzhur mengemukakan bahwa ada pendapat yang mengatakan ; al-bashirah memiliki ma’na sama dengan al-fithnah (kecerdasan) dan al-hujjah(argumntasi[9]).  Al-Jurjani mendefinisikan al-Bashirah, adalah suatu kekuatan hati yang diberi cahaya kesucian, sehingga dapat melihat  hakikat sesuatu dari batinnya. Para ahli hikmah menamakannya dengan ; al-‘aqilah an-nazhariyyah wa alquwwah al-qudsiyyah  (kecerdasan bepikir dan kekuatan  suci atau ilahi).Abu Hilal al-‘Askari membedakan antara al-bashirah dan al-‘ilm (ilmu), bahwa al-bashirahadalah kesempurnaan ilmu dan pengetahuan.
Di dalam al-Quran, kata yang berasal dari kata al-bashar, dengan berbagai macam bentuk, jumlahnya cukup banyak, yaitu berjumah 142 kata, yang berbentuk kata al-bashirberjumlah 53 kata, hampir kesemuanya menjadi sifat Allah swt. kecuali 6 kata yang menjadi sifat manusia, 4 diantaranya kata al-bashir menjelaskan perbedaan antara manusia yang buta dan melihat. Sedangkan kata bashirah terdapat pada 2 ayat, yaitu pada surah Yusuf : 108 dan al-Qiyamah : 14.  sedangkan kata bashair yaitu bentuk jama’ dari bashirah disebut dalam al-Quran sebanyak 5 kali. Dalam menafsirkan kata bashirah yang ada pada surat Yusuf : 108, al-Baghawi dan Sayyid Thanthawi menjelaskan ma’na al-bashirah adalah pengetahuan yang dengannya manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah.  Kata al-abshar yaitu bentuk jama’ dari al-bashar berjumlah 8 ayat, 3 diantaranya didahului kata ulu (mempunyai), ya’ni Surah Ali Imran : 13, an-Nur : 44, dan al-Hasyr : 2.
4.      An-Nuha,ma’nanya sama dengan al-‘aql, dan akal dinamakan an-nuha yang juga memiliki arti mencegah, karena akal mencegah dari keburukan. Kata an-nuha di dalam al-Quran terdapat pada 2 tempat, keduanya ada pada Surat thaha ; 54, 128 dan keduanya diawali dengan kata uli (pemilik).
5.      Al-fiqh yang berarti pemahaman atau ilmu. Di dalam al-Quran, Kata yang seasal dengan al-Fiqh terdapat pada 20 ayat, kesemuanya menggunakan kata kerja (fi’l mudhari’), hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan pemahaman itu seharusnya dilakukan secara terus menerus. Kata al-fiqh juga  berarti al-fithnah (kecerdasan).
6.      Al-Fikr, yang artinya berpikir. Kata yang seakar dengan al-fikr terdapat pada 18 ayat.Kesemuanya berasal dari bentuk kata at-tafakkur, dan semuannya berbentuk kata kerja (fi’l), hanya satu yang berbentuk kata fakkara, yaitu pada Surat al-Mudatstsir : 18. Al-Jurjani mendefinisikan, at-tafakkur adalah pengerahan hati kepada makna sesuatu untuk menemukan sesuatu yang dicari, sebagai lentera hati yang dengannya dapat mengetahui kebaikan dan keburukan[10].
7.      An-nazhar yang memiliki makna melihat secara abstrak (berpikir), Di dalam kamus Taj al-‘Arus disebutkan termasuk makna an-nazhar adalah menggunakan mata hati untuk menemukan segala sesuatu, an-nazhar juga berarti al-i’tibar (mengambil pelajaran), at-taammul (berpikir), al-bahts (meneliti)[11]. Untuk membedakan antara an-nazhar dan al-Ru’yah, Abu Hilal al-‘Askari memberikan definisi bahwa al-nazharadalah mencari petunjuk, juga berarti melihat dengan hati . Di dalam al-Quran terdapat kata yang seasal dengan an-nazhar lebih dari 120 ayat
8.      At-tadabbur yang semakna dengan at-tafakkur, terdapat dalam al-Quran sebanyak 8 ayat. Al-Jurjani memberikan definisi at-tadabbur, adalah berpikir tentang akibat suatu perkara, sedangkan at-tafakkur adalah pengerahan hati untuk berpikir tentang dalil (petunjuk).
9.      Adz-dzikr yang berarti peringatan, nasehat, pelajaran. Dalam al-Quran terdapat kata yang seasal dengan adz-dzikr berjumlah 285 kata, 37 diantaranya adalah yang berasal dari bentuk kata at-tadzakkur yang berarti mengambil pelajaran

           

Bab III
Penutup
A. Kesimpulan
Inteligensi dapat di artikan kecerdasan Istilah “cerdas” sendiri sudah lazim dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bila seseorang tahu banyak hal, mampu belajar cepat, serta berulang kali dapat memilih tindakan yang efektif dalam situasi yang rumit, maka disimpulkan bahwa ia orang yang cerdas. Bakat dan keerdasan merupakan dua hal yang berbeda,  namun saling terkait. Bakat adalah kemampuan yang merupakan sesuatu yang melekat (inheren), dalam diri seseorang.

B.Saran
anak yang memiliki inteligensi yang tinggi mereka harus lebih di optimalkan kemampuannya banyak anak memiliki inteligensi tetapi tidak semuanya terlihat dengan jelas.karena sebagian anak mereka hanya memendam kemampuannya dikarnakan bidang yang di kuasai tidak di dukung pada pihak tertentu dan sebaik nya anak tersebut di olah dengan sangat baik agar agar anak tersebut dapat mengikuti perkembangan dengan baik dan benar





DAFTAR PUSTAKA

khodijah nyayu.2014.Psikologi Pendidikan Jakarta;PTRajaGrafindo
Uno,Hamzah B.2014.Mengelola Kecerdasan Dalam Pembelajaran Jakarta;PTBumiAngkasa
Iskandar.2009.psikologi pendidikan.jakarta;penerbit referensi /
Gaung  persada press
(pak-boedi.blogspot.com/2015/09/resume-buku-psikologi-pendidikan-oleh.html)
http://arhan65.wordpree.com
Al-Jurjani, at-Ta’rifat, .
Muhammad Ibn Muhammad Ibn Abd. Al-Razzaq, Taj al-‘Arus min Jawahir al-Qamus, (Al-Makatabah asy-Syamilah), Juz. 1

Muhammad Ali Al-Shabuni, Shafwah al-Tafasir, (Beirut, Dar al-Fikr, 1988), Juz I
Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur al-Afriqi al-Mashri, Lisan al-Arab
Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur al-Afriqi al-Mashri, Lisan al-Arab, (Beirut, dar Shadir, 1882), Cet. I, Juz 4,
Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21.
Muhammad Ibn Abu Bakar al-Razi, Mukhtar ash-Shahah,(Beirut, Maktabah Lubnan Nasyirun, 1995), Juz I




[1] Prof.Dr.nyayu khodijah,s.ag.,m.si,pisikologiPendidikan(Jakarta,PTRajaGrafindo2014)hlm.89
[2] Prof.Dr.Hamzah B.Uno,M.Pd.MengelolaKecerdasanDalamPembelajaran(Jakarta,PTBumiAngkasa2014)hlm.7-8
[3] Dr.iskandar,mp.pd.,PsikologiPendidikan
[4] Prof.Dr.nyayu khodijah,s.ag.,m.si,pisikologiPendidikan(Jakarta,PTRajaGrafindo2014)hlm.99-102
[5]  Muhammad Ali Al-Shabuni, Shafwah al-Tafasir, (Beirut, Dar al-Fikr, 1988), Juz I, hlm. 576.
[6] Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur al-Afriqi al-Mashri, Lisan al-Arab, hlm. 343.
[7] Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21, h. 160.
[8]  Muhammad Ibn Abu Bakar al-Razi, Mukhtar ash-Shahah,(Beirut, Maktabah Lubnan Nasyirun, 1995), Juz I, h. 612
[9] Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manzhur al-Afriqi al-Mashri, Lisan al-Arab, (Beirut, dar Shadir, 1882), Cet. I, Juz 4, h. 64.
[10] Al-Jurjani, at-Ta’rifat, h. 20.
[11] Muhammad Ibn Muhammad Ibn Abd. Al-Razzaq, Taj al-‘Arus min Jawahir al-Qamus, (Al-Makatabah asy-Syamilah), Juz. 1, h. 3549.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumit

Desemberku