Perkembangan motorik

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Seorang anak kecil sudah harus menguasai berbagai keterampilan motorik, seperti mengenakan pakaian sendiri, mempergunakan alat-alat makan, mengucapkan bunyi-bunyi yang berarti, sehingga dapat berkomunikasi dengan saudara-saudara dan lain sebagainya.
Perkembangan anak usia dini sifatnya holistik, yaitu dapat berkembang optimal apabila sehat badannya, cukup gizinya dan didik secara baik dan benar. Anak berkembang dari berbagai aspek yaitu berkembang fisiknya, baik motorik kasar maupun halus, berkembang aspek kognitif, aspek sosial dan emosional. Keterampilan motorik kasar pada anak diperlukan untuk mengendalikan seluruh gerak tubuhnya, sehingga anak mampu untuk melakukan gerak lari, jalan, melompat dan sebagainya. Sedangkan motorik halus merupakan kegiatan yang menggunakan bagian kecil dari tubuh terutama tangan, seperti menulis, menggunting, meniru bentuk, meniru gerakan orang lain dan sebagainya.
Perkembangan motorik kasar pada anak perlu adanya bantuan dari para pendidik di lembaga pendidikan usia dini yaitu dari sisi apa yang dibantu, bagaimana membantu yang tepat (appropriate), bagaimana jenis latihan yang aman bagi anak sesuai dengan tahapan usia dan bagaimana kegiatan fisik motorik kasar yang menyenangkan anak. Kemampuan melakukan gerakan dan tindakan fisik untuk seorang anak terkait dengan rasa percaya diri dan pembentukan konsep diri. Oleh karena itu, perkembangan motorik kasar sama pentingnya dengan aspek perkembangan yang lain untuk anak usia dini.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Proses Motorik?
2. Bangaimana cara adaptasi motoris?
3. Jelaskan jenis-jenis perkembangan motorik?
4. Jelaskan prinsip perkembangan motorik?
5. Jelaskan apa saja hal-hal yang mempengaruhi motorik?
6. Jelaskan apa saja yang perlu di perhatikan dalam mempelajari keterampilan hal motorik?
7. Sebutkan fungsi keterampilan motorik?
8. Jelaskan bahaya dalam perkembangan motorik?
9. Bagaimana tahap perkembangan motorik anak?

C. Tujuan  Masalah
1. Untuk mengetahui  proses motorik.
2. Untuk mengetahui  adaptasi motoris.
3. Untuk mengetahui  jenis-jenis perkembangan motorik.
4. Untuk mengetahui  prinsip perkembangan motorik.
5. Untuk mengetahui  hal-hal yang  mempengaruhi motorik.
6. Untuk mengetahui  hal-hal yang perlu di perhatikan dalam mempelajari keterampilan hal motorik.
7. Untuk mengetahui  fungsi keterampilan motorik.
8. Untuk mengetahui  bahaya dalam perkembangan motorik.
9. Untuk mengetahui  tahap perkembangan motorik anak.



BAB II
PEMBAHASAN

A. Perkembangan Motorik
Dalam perspektif psikologi, istilah motor menunjuk pada hal, keadaan dan kegiatan yang melibatkan otot-otot juga gerakan-gerakan. Motor dapat pula berarti segala keadaan yang meningkatkan atau menghasilkan stimulasi atau rangsangan terhadap kegiatan organ-organ fisik .
Dengan demikian, perkembangan motorik berarti proses perkembangan yang progresif (maju) dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan fisik anak (motor skill). Pada anak-anak, sejak bayi sampai masa kanak-kanak pencapaian motor skill ini amat jelas sejak ia belajar menelungkup, merangkak, belajar berdiri untuk berjalan, dan belajar berjalan dengan perpegangan pada benda-benda tertentu seperti dinding, kursi dan seterusnya. Sifat progresif pada perkembangan ini karena anak-anak yang telah memiliki atau menguasai keterampilan tertentu tidak akan mundur kebelakang .
B. Proses Motoris
Terjadinya proses motoris ini atas kerja beberapa bagian tubuh, selain saraf dan otak proses motoris ini dibantu oleh otak sehingga terjadi gerakan baik gerak reflek atau gerak tak disadari maupun gerak disadari , saraf motoris atau saraf yang dikenal dengan saraf eferen dengan dendrit dan akan menuju keotot. Jika implus listrik tiba di otot, sehingga ujung akson mengeluarkan sat kimia maka otot berkontraksi berbicara motoris atau prosesmotoris
Didalam proses sensoris panca indra atau pennglihatan kita kenal denngan sensoris motor yaitu gerakan mata cepat. Kondisi gerakan mata cepat ini diwarnai dengan kondisi di mana otak dalam keadaan waspada mata yang terpejam itu bergerak-gerak dengan cepatnya, kondisi ini sedang dalam bermimpi. Ada sensoris motor  penglihatan yang terjadi, hanya tingkat kesadaran menurun total (lemah).  Didalam ilmu faal otot itu untuk bergerak otot yang melekat pada ujung tulang adalah mesin yang menggerakan persendian. Tiap otot berisi serat baik, serat halus, maupun serat panjang, dan setiap serat inilah yang berhubungan dengan saraf.
Pada proses motoris serat eferenlah yang bmenghubungkan gerakan saraf, hasil olah informasi otak. Jika otot berkontraksi secara serempak maka gerakan itu merupakan hentakan gerakan atau sering disebut gerak reflek atau gerak tak disadari. Contoh tersenggol strum, tersentuh benda panas atau dingin sekali.
Otot bisep mempunyai fungsi berkontaraksi dan menarik lengan keatas, untuk menurunkan/ kebawah tugas di ambil alih oleh otot trisep. Otot berkontraksi sehingga menimbulkan gerakan di perlukan tenaga yang menghasilkan panas (energi hasil pembakaran glukosa yang tersimpan di otot dengan oksigen dari darah). Otot bekerja lebih keras maka makin banyak glukosa dan oksigen yang di perlukan untuk mendapat oksigen tambahan, maka jantung mempompa lebih cepat, dan darah selalu memperoleh oksigen  yang dibutuhkan, paru-paru berkerja lebih keras .berbicara faal otot, ada otot sadar dan otot tidak sadar. Otot yang tidak sadar adalah otot yang tak dapat kita kendalikan.otot sadar,menurut kehendak kita dan bila kita kainkan dengan gerekan reflek atau tak disadari maka otot tak sadarlah yang memegang peranan, sedangkan gerakan di sadari/ reflek yang penuh bahaya adalah otot sadar.
Penjelasan Cara Kerja Proses Motoris Untuk Gerak Reflek dan Non Reflek.
GERAK REFLEK
1. Tampa melibatkan otak
2. Prosesnya saraf sensoris menerima
- menerima lansung di rekem lewat sum-sum tulang belakang ( sara tulang punggung )
- otot-otot yang bersangkutan  ( efektor )
- berkontraksi ( gerakan/motoris)
3. otot tal sadar yang bekerja
4. gerakan yang yak disadari ( sentuhan/gerakan )

GERAKAN NON REFLEK
1. dipikirkan lebih dahulu
2. saraf sensoris menerima rangsangan
- diotak diproses difikir, dijawab,dengan informasi lewat saraf sum-sum tulang belakang
- otot yang bersangkutan ( efektor )
- kontraksi / gerakan motoris.
3. Otot sadar yang bekerja
4. Bisa diatur dan terarah karena hasil pikir .

C. Adaptasi Motorik
Kontrol kepala merupakan adaptasi motorik bayi yang pertama.sebagian besar bayi,yang dilahirkan ,bisa menggerakkan kepalanya ke kanan atau kekiri ketika ditidurkan terlentang.ketika ditidurkan diposisi tengkurap’banyak diantara mereka bisa mengangkat kepalanya tinggi dan memutarnya.
Pada usia 2-3 bulan,bayi sudah bisa mengangkat lebih tinggi.usia 4 bulan,hampir semua bayi dapat menjaga kepalanya tetap tegak ketika digendong.
Pada usia 3,5 bulan sebagian besar bayi babyhood sudah bisa menggenggam benda dengan ukuran sedang, seperti manan.tapi masih mengalami kesulitan saat menggenggam benda-benda  kecil.Bayi mulai dapat meraih dan memegang benda pada usia 4-5 bulan dan pada usia 5,5 bulan mereka telah menyesuaikan pegangannya untuk menggerakkan dan memutar benda tersebut.Bayi dapat meraih objek berdasarkan ingatan letak objek tersebut.

Tabel Tahap-Tahap Perkembangan Motorik Bayi

USIA
PERKEMBANGAN MOTORIK
0-3 Minggu Menyusu,gerakan reflek memegang atau menangis
Mengangkat kepala dan bahu atau tengkurap.                      
4-6 Minggu Menoleh ke kanan atau kiri,mulai tersenyum.
3 Bulan Mengangkat kepala dan bahu bila tengkurap.
4 Bulan Menguasai gerakan tangan ( dua tangan serentak ).Menaruh benda dan menoleh kea rah suara.
5 Bulan Tengkurap sendiri,meraih benda jauh,mengoceh.
6 Bulan Duduk dengan sandaran,mengambil mainan dari meja. Menepuk-nepuk,menggoyang atau mengoceh
7.5 Bulan Duduk sendiri,mencoba merangkak,dapat makan bikuit,dan mengucapkan suku tunggal.
8 Bulan Merangkak dan memindahkan mainan ketangan lain.
9 Bulan Berdiri sambil berpegangan,menarik badan ke atas.Meniru nada dan suara yang didengan.
10 Bulan Berjalan sambil berpegangan,bisa menjepit dengan ibu jari dan bisa mengucap suku kata ganda.
12 Bulan Menarik badan ke atas hingga berdiri dan menahan badan lagi,bertepuk tangan,dapat menunjukkan keinginan dengan menangis.Bisa mengucapkan “ mama” dengan jelas.
14 Bulan Perbendaharaan kata semakin banyak
15 bulan Berjalan,naik tangga dan belajar minum dari cangkir.
18 bulan Dapat berlari,tetapi dengan langkah kaku.Bayi sudah mulai belajar menyusun menara dari balok kayu,memiliki pendeharaan kata sebanyak sebanyak 20 kata.
24 Bulan Berjalan naik turun,dapat membuat garis lurus dan melepaskan kaus kaki.Memiliki 250 kata dan bisa menyusun kalimat.

D. Jenis Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik anak dibagi menjadi dua:
1. Motorik kasar
Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri. Keterampilan motorik kasar seperti berjalan, berlari, melompat, naik turun tangga. Sekitar usia 3 tahun anak sudah dapat berjalan secara otomatis, bahkan pada alas yang tidak rata anak sudah dapat berjalan tanpa kesukaran. Sekitar 4 tahun anak hampir menguasai cara berjalan orang dewasa. Kesukaran yang ada pada belajar berjalan berhubungan dengan kekuatan badannya, yaitu untuk dapat menyandarkan seluruh berat badannya pada satu kaki. Bila anak sudah dapat berjalan maka ia akan mencoba untuk berjalan dengan berbagai variasi, misalnya berjalan mundur (± sekitar 17 bulan) dan berjalan di atas tumit (± sekitar 30 bulan). Sekitar bulan ke 18 anak mencoba untuk lari, tetapi gayanya masih menyerupai gaya berjalan.
Pada usia 2 atau 3 tahun anak betul-betul dapat berlari, tetapi ia belum mampu untuk berhenti dengan cepat atau untuk membalik. Pada usia 4 sampai 5 tahun anak sudah dapat lari, berhenti dan berputar membalik. Sesudah dapat berjalan dengan baik, anak juga belajar untuk berjalan memanjat dan menuruni tangga. Memanjat tangga berlangsung dengan setiap kali menapakkan sebelah kakinya ke muka dan menarik kaki yang satunya disamping. Sekitar 2 atau 3 tahun anak juga belajar meloncat-loncat, berjingkat-jingkat, dan berbagai variasi jalan. Sekitar 29 bulan anak dapat berdiri di atas sebelah kaki. Anak usia 3 tahun masih mempunyai kesukaran untuk menangkap bola atau untuk memukul bola dengan tongkat (Monks, 2004).

2. Motorik halus
Motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Kedua kemampuan tersebut sangat penting agar anak bisa berkembang dengan optimal. Keterampilan motorik halus atau keterampilan manipulasi seperti menulis, menggambar, memotong, melempar dan menagkap bola serta memainkan benda-benda atau alat-alat mainan (Curtis,1998; Hurlock, 1957 dalam Yusuf 2005).
Pada usia 3 tahun, kemampuan anak-anak masih timbul dari kemampuan bayi untuk menempatkan dan memegang benda-benda. Walaupun mereka telah mampu untuk memegang benda-benda berukuran kecil di antara ibu jari dan jari telunjuk, tetapi mereka masih agak kikuk. Mereka dapat secara mengejutkan membangun menara tinggi yang terbuat dari balok, setiap balok disusun secara hati-hati walau seringkali tidak berada pada satu garis yang benar-benar lurus.
Pada usia 4 tahun, koordinasi motorik halus anak-anak telah semakin meningkat dan menjadi lebih tepat. Pada usia 5 tahun, koordinasi motorik halus anak-anak semakin meningkat. Tangan, lengan, dan tubuh bergerak bersama di bawah komando yang lebih baik dari mata (Santrock, 1995).

E. Prinsip Perkembangan Motorik
Menurut Hurlock (2001) terdapat lima prinsip perkembangan, yaitu:
1.        Perkembangan motorik bergantung pada kematangan otot dan syaraf
2.        Belajar ketrampilan motorik tidak terjadi sebelum anak matang.
3.        Perkembangan motorik mengikuti pola yang dapat diramalkan.
4.        Dimungkinkan menentukan norma perkembangan motorik.
5.        Perbedaan individu dalam laju perkembangan motorik.
Teori yang menjelaskan secara detail tentang sistematika motorik anak adalah Dynamic System Theory yang dikembangkan Thelen & Whiteneyerr. Teori tersebut mengungkapkan bahwa untuk membangun kemampuan motorik anak harus mempersepsikan sesuatu di lingkungannya yang memotivasi mereka untuk melakukan sesuatu dan menggunakan persepsi mereka tersebut untuk bergerak. Kemampuan motorik merepresentasikan keinginan anak.
Selain berkaitan erat dengan fisik dan intelektual anak, kemampuan motorik pun berhubungan dengan aspek psikologis anak. Damon & Hart, 1982 (dalam Yusuf, 2005) menyatakan bahwa kemampuan fisik berkaitan erat dengan self-image anak. Anak yang memiliki kemampuan fisik yang lebih baik di bidang olah raga akan menyebabkan ia dihargai teman-temannya. Hal tersebut juga seiring dengan hasil penelitian yang dilakukan Ellerman, 1980 (Yusuf, 2005) bahwa kemampuan motorik yang baik berhubungan erat dengan self-esteem.

F . Hal-hal Yang Mempengaruhi Perkembangan Motorik
Hurlock (2001) menyatakan beberapa kondisi yang mempengaruhi laju perkembangan motorik anak, antara lain:
1.       Sifat dasar genetik, termasuk bentuk tubuh dan kecerdasan mempengaruhi laju perkembangan.
2.       Awal kehidupan pascalahir tidak ada hambatan pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, semakin aktif janin semakin cepat perkembangan motorik anak.
3.       Kondisi pra lahir yang menyenangkan (gizi makanan sang ibu) lebih mendorong perkembangan motorik yang lebih cepat pada masa pascalahir.
4.       Kelahiran yang sukar, apabila ada kerusakan pada otak akan memperlambat perkembangan motorik.
5.       Adanya rangsangan, dorongan, dan kesempatan untuk menggerakkan semua bagian tubuh akan mempercepat perkembangan motorik.
6.       Perlindungan yang berlebihan akan melumpuhkan persiapan berkembangnya kemampuan motorik.
7.       Kelahiran sebelum waktunya biasanya memperlambat perkembangan motorik.
8.       Cacat fisik, seperti buta akan memperlambat perkembangan motorik.
9.       Dalam perkembangan motorik, perbedaan jenis kelamin, warna kulit, dan sosial ekonomi lebih banyak disebabkan oleh perbedaan motivasi dan metode pelatihan anak ketimbang karena perbedaan bawaan.

G . Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Mempelajari Keterampilan Motorik
Beberapa hal penting dalam mempelajari keterampilan motorik menurut Hurlock (2001), meliputi:
1.       Kesiapan belajar
2.       Kesempatan belajar
3.       Kesempatan berpraktek
4.       Model yang baik
5.       Bimbingan
6.       Motivasi
7.       Setiap keterampilan motorik harus dipelajari secar individu
8.       Keterampilan sebaiknya dipelajari satu persatu.

Masa kecil sering disebut sebagai “saat ideal” untuk mempelajari keterampilan motorik karena beberapa alasan, antara lain:
1. Tubuh anak lentur dibanding tubuh remaja atau orang dewasa sehingga anak lebih mudah menerima semua pelajaran.
2. Anak belum banyak memiliki keterampilan yang akan berbenturan dengan keterampilan yang baru dipelajarinya maka bagi anak mempelajari keterampilan yang baru lebih mudah.
3. Anak lebih berani pada waktu kecil ketimbang telah besar.
4. Para remaja dan orang dewasa merasa bosan mengalami pengulangan tetapi tidak untuk anak, mereka malah menyenanginya.
5. Anak memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang lebih kecil ketimbang yang akan mereka miliki pada waktu mereka bertambah besar.

H. Fungsi Keterampilan Motorik
Keterampilan motorik yang berbeda memainkan peran yang berbeda pula dalam penyesuaian sosial dan pribadi anak. Sebagai contoh, sebagian keterampilan berfungsi membantu anak dalam kemandiriannya, sedangkan sebagian lainnya berfungsi untuk membantu mendapatkan penerimaan sosial. Dikarenakan tidak mungkin mempelajari keterampilan motorik secara serempak, anak akan memusatkan perhatian untuk mempelajari keterampilan yang akan membantu mereka memperoleh bentuk penyesuaian yang penting pada sat itu. Misalnya, apabila anak merasa sangat ingin mandiri, mereka akan memusatkan perhatian untuk menguasai keterampilan yang memungkinkan mereka dapat mandiri.
Beberapa pengaruh perkembangan motorik terhadap perkembangan individu dipaparkan oleh Hurlock (1996) sebagai berikut:
1. Melalui keterampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang. Seperti anak merasa senang dengan memiliki keterampilan memainkan boneka, melempar dan menangkap bola atau memainkan alat-alat mainan.
2. Melalui keterampilan motorik, anak dapat beranjak dari kondisi tidak berdaya pada bulan-bulan pertama dalam kehidupannya, ke kondisi yang independent. Anak dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya. Kondisi ini akan menunjang perkembangan rasa percaya diri.
3. Melalui perkembangan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah. Pada usia prasekolah atau usia kelas-kelas awal Sekolah Dasar, anak sudah dapat dilatih menulis, menggambar, melukis, dan baris-berbaris.
4. Melalui perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain atau bergaul dengan teman sebayannya, sedangkan yang tidak normal akan menghambat anak untuk dapat bergaul dengan teman sebayanya bahkan dia akan terkucilkan atau menjadi anak yang fringer (terpinggirkan).
5. Perkembangan keterampilan motorik sangat penting bagi perkembangan self-concept atau kepribadian anak.
Pada tahun 2001, Hurlock membagi fungsi keterampilan motorik menjadi 4 kategori, meliputi:
1. Keterampilan bantu diri (Self help)
Untuk mencapai kemandiriannya, anak harus mempelajari keterampilan motorik yang memungkinkan mereka mampu melakukan segala sesuatu bagi diri mereka sendiri. Keterampilan tersebut meliputi keterampilan makan, berpakaian, merawat diri, dan mandi.
2. Keterampilan bantu sosial (Social help)
Untuk menjadi anggota kelompok sosial yang diterima di dalam keluarga, sekolah, dan tetangga, anak harus menjadi anggota yang kooperatif. Contoh keterampilan agar dapat memperoleh peneriman sosial antara lain membantu pekerjaan rumah atau mengerjakan pekerjaan sekolah.
3. Keterampilan bermain
Untuk dapat menikmati kegiatn kelompok sebaya atau untuk dapat menghibur diri di luar kelompok sebaya, anak harus mempelajari keterampilan bermain bola, mengambar, melukis, dan memanipulasi alat bermain.
4. Keterampilan sekolah
Pada tahun permulaaan sekolah, sebagian besar pekerjaan melibatkan keterampilan motorik seperti melukis, menulis, menggambar, membuat keramik, menari, dan bertukang kayu. Semakin banyak dan semakin baik keterampilan yang dimiliki, semakin baik pula penyesuaian sosial yang dilakukan semakin baik prestasi sekolahnya, baik dalam prestasi akademis maupun dalam prestasi yang bukan akademis

I. Bahaya dalam Perkembangan Motorik
Bahaya-bahaya yang perlu diperhatikan dalam perkembangan motorik, antara lain:

1.        Terlambatnya Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik berada di bawah norma anak. Akibatnya pada umur tertentu anak tidak menguasai tugas perkembangan yang diharapkan oleh kelompok sosialnya. Pengaruh perkembangan motorik yang terlambat berbahaya bagi penyesuaian sosial dan pribadi anak yang baik. Alasannya karena hal itu dapat menimbulakan akibat yang tidak menguntungkan konsep diri anak sehingga sering menimbulakan masalah perilaku dan emosi antara lain karena rasa putus asa dan adanya perasaan rendah diri. Selain itu, keterlambatan perkembangan motorik berbahaya karena tidak menyediakan landasan bagi keterampilan motorik sehingga mengalami kerugian pada sat mereka mulai bermain dengan anak lainnya.

2.        Harapan Keterampilan yang Tidak Realistik
Yaitu harapan yang lebih banyak didasarkan atas harapan dan keinginan ketimbang harapan atas potensi anak sendiri. Dalam bidang perkembangan keterampilan motorik, anak diharapkan dapat mengendalikan motorik dan mempelajari keterampilan tersebut sebelum mereka matang dan siap melakukannya. Sebagian harapan yang tidak realistis timbul dari orang tua, sebagian dari guru, dan sebagian lagi dari anak sendiri. Ketidakmampuan berbuat sesuai harapan, membuat anak merasa rendah diri dan tidak terampil sehingga peraasan ini akan merongrong kepercayaan diri dan melemahkan motivasi untuk mempelajari ketermapilan motorik yang lainnya. Selain itu, jika anak dikritik dan ditegur mereka akan kecewa dan menentang.

3. Tidak dapat Mempelajari Keterampilan Motorik yang Penting
Kegagalan mempelajari keterampilan motorik yang penting bagi diri anak atau bagi kelompok sebaya mereka, akan merugikan penyesuaian sosial dan pribadi anak.

4.        Kekakuan
Dipandang sebagai kaku atau canggung hanya jika pengendalian gerakan tubuhnya berada di bawah standar ynng diharapkan bagi tingkat umurnya. Sebagian anak mungkin kelihatan kaku karena dinilai dengan standar yang tidak sesuai, misalnya anak yang berumur 2 tahun dinilai kaku bila standar penilaian yang digunakan adalah standar untuk anak usia 3 tahun. Penyebab yang paling umum adalah terlambat matang, kondisi fisik yang jelek melemahkan motivasi melakukan latihan yang diperlukan untuk mengembangkan keterampilan motorik, bangun tubuh tertentu mempengaruhi motivasi anak untuk memperoleh ketermapilan tanpa melakukan latihan yang cukup, IQ yang sangat rendah disertai dengan keterlambatan perkembangan motorik, IQ yang sangat tinggi yeng lebih mendorong minat intelektual dibanding perkembangan motorik, kurangnya kesempatan dan motivasi untuk mengembangkan pengendalian otot, dan ketegangan emosional yang mengganggu kondisi otot. Kekakuan pada anak mebawa dampak psikologis yang lebih besar daripada dampak fisik.
Terdapat beberapa perbedaan individu dalam kekakuan yaitu:
a.    anak yang secara temporer tegang, gugup, dan terganggu emosionalnya lebih kaku ketimbang anak yang normal.
b.    selama periode pertumbuhan yang cepat dapat mengganggu terbentuknya pola koordinasi motorik.
c.    dalam situasi yang berbeda tingkat pengendalian motorik yang dilakukan anak juga berbeda.

J. Tahap Perkembangan Pada Motorik Anak
Pertumbuhan si Kecil yang begitu cepat kerap membuat Mam dan Pap kagum. Pertumbuhan fisik dan kekuatannya pun bertambah dengan meningkatnya kecerdasan motor kasar dan halusnya. Perkembangan motorik ini sangat penting karena berhubungan dengan pengendalian gerak tubuh yang terkoordinasi antara susunan syaraf, otot, otak, dan spinal cord. Motor kasar berhubungan dengan gerakan otot besar yang menunjukkan kemampuan si Kecil dalam berlari, melompat, duduk, dan lain sebagainya. Motorik halus berhubungan dengan gerak otot-otot kecil seperti jari-jemari tangan yang dapat dipelajari seperti memindahkan benda, mencoret-coret, dan menyusun balok. Berikut  7 tahapan perkembangan motorik anak yang wajib Mam dan Pap ketahui!
1. 0-3 bulan
Memasuki usia 3 bulan, si Kecil akan mulai belajar untuk mengangkat kepala dan dadanya dari lantai seperti melakukan “mini push-up”. Pada usia ini, si Kecil masih menggenggam erat jemarinya. Latih motorik halusnya dengan memberikan benda yang dapat digenggam atau memberikan sentuhan halus pada jarinya, atau menyilangkan tangannya untuk menguatkan otot lengannya.
2. 4-6 bulan
Pada usia ini, si Kecil mulai bisa memiringkan badannya ke sisi kanan dan kiri, tengkurap, menggulingkan badan, serta menggunakan tangannya untuk mendukungnya duduk. Motorik halusnya mulai berkembang dengan mulai mengeksplorasi mainan dengan mengenggam dan menggapainya.
3. 7-9 bulan
Saat ini, si Kecil sudah terlihat lebih kuat dengan kemampuan meraih mainan sendiri tanpa jatuh. Ia sudah bisa merangkak, duduk, dan belajar berdiri sendiri. Motorik halusnya terus berkembang dengan kemampuan menggapai mainan dengan dua tangan, serta mengambil benda yang lebih kecil dengan ibu jari dan jari telunjuknya.
4. 10-12 bulan
Tak terasa si Kecil sudah memasuki usia 1 tahun. Saat ini, ia telah pandai mengangkat badannya untuk berdiri dan melangkahkan kaki untuk belajar rambatan atau merambat. Ia juga sudah mampu duduk tanpa dukungan di belakangnya dan memutar kepala tanpa kehilangan keseimbangan. Ia dapat mempertahankan keseimbangan dengan posisi duduk, saat melempar bola, dan bertepuk tangan sebagai perkembangan motorik halusnya.
5. 1-2 tahun
Refleks si Kecil kini kian baik. Ia sudah mampu berjalan dengan baik, berjalan mundur, naik tangga, menarik dan mendorong benda berat, serta berdiri di kursi tanpa pegangan dan melempar. Begitu juga dengan kemampuan motorik halusnya seperti bisa menyusun menara dari balok, mencoret-coret, dan belajar melepas celana atau bajunya.
6. 2-3 tahun
Pertumbuhan fisik si Kecil kian kuat. Ia mampu menaiki tangga, menendang bola, membuka dan memakai pakaian sendiri, memungut dan membawa benda kecil dengan mudah. Ia juga sudah bisa diajak berkreasi karena mampu menggunting kertas, membuat lingkaran serta mencoret sesuai keinginan.
7. 3-4 tahun
Si Kecil sudah bisa berjalan dengan mengayunkan tangan, mampu menuruni tangga dengan dua kaki. Ia juga sudah bisa berdiri di salah satu kaki selama 5-10 detik, melompat, dan memanjat. Motorik halus si Kecil pun menunjukan kemajuan dengan pandai mengoleskan lem dengan rapi, meronce, menyusun puzzle, dan menuangkan cairan ke dalam botol dengan hati-hati.










BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
Perkembangan motorik berarti proses perkembangan yang progresif (maju) dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan fisik anak (motor skill).
bahwa untuk membangun kemampuan motorik anak harus mempersepsikan sesuatu di lingkungannya yang memotivasi mereka untuk melakukan sesuatu dan menggunakan persepsi mereka tersebut untuk bergerak. Kemampuan motorik merepresentasikan keinginan anak.
Selain berkaitan erat dengan fisik dan intelektual anak, kemampuan motorik pun berhubungan dengan aspek psikologis anak.

B.Saran
Sejak kecil, anak harus sudah menguasai berbagai keterampilan motorik, seperti mengenakan pakaian sendiri, mempergunakan alat-alat makan, mengucapkan bunyi-bunyi yang berarti, sehingga dapat berkomunikasi dengan dengan baik kepada saudara-saudara dan orang lain .
Pada waktu masuk SD anak memperoleh keterampilan-keterampilan baru, sepertu menulis dengan memegang alat tulis dan membuat gambar-gambar,  keterampilan-keterampilan ini akan menjadi bekal dalam perkembangan kognitifnya. Sewaktu anak di Sekolah Menengah, dia masih mendapat pelajaran mengembangkan ketrampilan motorik, seperti berolahraga.

DAFTAR PUSTAKA
Tohirin,2005.psikologi pembelajaran pendidikan agama islam,Jakarta:pt rajagrafindo persada
Rusmi tri widayatun,1999. ilmu prilaku,cv sagung set.
Janiwart, bethsaid dan herri zan Pieter,2013.pendidikan psikologi untuk bidan Yogyakarta; rafha publishing
https://agroedupolitan.blogspot.com/2017/08/makalah-perkembangan-motorik-anak-usia.html
https://www.parentingclub.co.id/smart-stories/7-tahap-perkembangan-motorik-anak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah psikologi pendidikan. Kecerdasan Manusia Dalam Belajar

Rumit

Desemberku