Hubungan ilmu Kalam, filsafat dan tasawuf
Hubungan Ilmu Kalam, Filsafat Dan Tasawuf
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat serta Karunianya kepada kami, sehingga kami berada dalam keadaan sehat wal’afiat dan berkat rahmatnya pula, kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan makalah ini dengan kerja keras dan dukungan dari berbagai macam pihak kami berusaha untuk dapat memberikan yang terbaik dan sesuai dengan harapan, walaupun didalam pembuatannya kami mengalami kesulitan karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang kami miliki.Oleh karena itu pada kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih Kepada Bapak Qonidin,S.Pd.I,,M.Pd.I selaku dosen Pengampu Sejarah perkembangan Pemikiran Kalam. Dan juga kepada teman-teman yang telah memberikan dukungan dan dorongan kepada kami
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari kesempurnaan untuk itu penulis sangat mengharapkan keritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaannya makalah ini.penulis berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi penulis dan khusus nya bagi pembaca pada umumnya
Muaro Jambi, Oktober 2019
Penulis
BAB II
PEMBAHASAN
A. Ilmu Kalam
Sesungguhnya Allah SWT.Maha berbicara ( al-mutakallim), maha memerintah dan melarang, memberi janji yang menyenangkan dan memberi ancaman.semia itu dilakukan dengan Kalamnya yang Azali lagi qadim yang terkait dengan Dzat Allah yang tidak sama. Atau mirip dengan pembicaraan Mahluk. Sebab Kalamnya tidak menggunakan suara yang muncul dari getaran udara atau akibat benturan ,atau gesekan Bantara benda yang satu dengan yang lain, tidak pula dengan hurup yang bisa di tuturkan dengan gerakan bibir dan lidah.Sesungguhnya Al-Qur’an, taurat, Injil dan Zabur adalah kitab2nya yang diturunkan kepada rasulnya semoga keselamatan tetap di berikan kepada mereka. Sesungguhnya Al-Qur’an yang di baca dengan lisan, yang tertulis dalam mushab yang di hapal dalam hati sanubari, meski demikian ia adalah tetap kodim yang berkait dengan dzat Allah yang kodim, yang tidak Dapat di pisah-pisahkan atau di penggal-penggal dengan memindahkan pada hati dan kertas. Sesungguhnya musa As mendengar Kalam Allah dengan Tampa suara dan hurup, sebagaimana orang-orang bijak di akhirat nanti akan melihat dzat Allah dengan tampa terdiri dari elemen (Jauhar) maupun sifat yang ada pada Kosim ('aradh).
Apabila dia memiliki sifat-sifat ini, maka dia hidup dengan sifat hayat, mengetahui dengan sifat ilmu, puasa dengan sifat qudrat, berkehendak dengan sifat iradat, mendengar dengan sifat samak, melihat dengan sifat Bashar, berbicara dengan sifat Kalam, tidak sekedar dengan dzatnya saja. Disamping itu ada pula suatu sebab lain yang menyebabkan “Ilmu Tauhid” itu dinamakan orang dengan “Ilmu Kalam”. Ialah , karena dalam memberikan dalil tentang pokok (usul) agama ia lebih menyerupai logika (mantiq), sebagaimana yang biasa dilalui oleh para ahli pikir dalam menjelaskan seluk beluk hujjah tentang pendiriannya. Kemudian diganti orang Mantiq dengan kalam, karena pada hakikatnya keduanya adalah berbeda .
B. Hubungan Ilmu Kalam dengan Filsafat
Pengertian filsafat, dalam sejarah perkembangan pemikiran kefilsafatan. Antara satu ahli filsafat dan ahli filsafat lainnya selalu berbeda dan hampir sama banyaknya dengan ahli filsafat itu sendiri. Pengertian filsafat dapat ditinjau dari dua segi, yakni secara etimologi dan terminologi.
Adapun TujuanTujuan filsafat adalah mencari hakikat dari suatu objek / gejala secara mendalam. Adapun pada ilmu pengetahuan empiris hanya membicarakan gejala-gejala. Membicarakan gejala untuk masuk kehakikat itulah dalam filsafat. Untuk sampai kehakikat harus melalui suatu metode yang khas dari filsafat.
Dalam filsafat itu harus refleksi, radikal, dan integral. refleksi disini berarti manusia menangkap objeknya secara intersional dan sebagai hasil dari proses tersebut, yakni keseluruhan nilai dan makna yang diungkapkan manusia dari objek -objek yang dihadapinya.
Keselarasan antara filsafat dan agama ini didasarkan pada tiga alasan:
1. bahwa ilmu agama merupakan bagian dari ilmu filsafat,
2. bahwa antara wahyu yanngbditurunkan kepada nabi dan kebenaran filsafat terdapat bersesuain,dan
3. bahwa menyntut ilmu secara logika diperintah dalam agama.
Filsafat merupakan pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu, dan ini mengandung teologi, (al- rububiah),ilmu Tauhid,etika,dan seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
Demikian juga memfelajari filsafat adalah perlu bila para teologi ( yang melarang mempelajari fiolsafat) mengatakan bahwa filsafat perlu, mka mereka harus mempelajarinya, dan apanbila mereka mrnngatakan bahwa hal itu tak perlu, maka mereka harusmemberikan alasan untuk ini, dan memaparkannya.
Filsafat merupakan pengetahuiuan tentang hakikat segala sesuatu, dan ini mengandung teologi (al-rububiah), ilmu tauhid, etika, dan seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
Al- kindi lebih lanjut mengatakan bahwa filsafat tidak bisa bertentangan, oleh karna filsafat membawa informasi tentang kebenaran. Filsafat mempergunakan akal, berusaha membahas kebenaran pertama (al- haqqal al awwal) filsafat yang paling tinggi adalah filsafat yang membahas Al-haqqal al-awwal itu.
Al-farabi mengatakan bahwa filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud, dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnnya.ia selanjutnya berpedapat bahwa pada hakikatnya filsafat merupakan satu kesatuannya, karena itu, para pilosop besar harus menyetejui bahwa satu-satunya tujuan pilsafat adalah mencari kebenaran.plato dan aristoteeles, yang menjadi cikal bakal filsafat dan pencipta unsur-unsur dan prinsip-prinsipnya serta penanggung jawab terakhir terhadap kesimpulan-kesimpulan dan cabang-cabangnya, sangat setuju meski ada beberapa perbedaan pormal. Bertolak dari pemikiran dan pandangannya itu, Al-farabi sangat yakin bahwa hanya ada satu aliran filsafat, yaitu aliran kebenran.
Ibn Rusyd juga berbicara tentang filsafat, baginya tugas filsafat tidak lain dari berpikir tentang wujud untuk mengetahui pencipta semua yang ada dan berpikir iu sebagaimana dinyatakan didalam ayat-ayal Al-Qur’an.(Q.S.50:6-7).
Ayat-ayat tersebut mengandung perintah agar manusia memperhatikan, merenungkan, dan memikirkan tentang segala sesuatu, diantaranya adalah langit, penciptaan manusia, lautan yang dapat dilayari dan sebagainnya.
Menurut Ibn Rusyd, bahwa mengartikan perintah berpikir yang terdapat dalam Al- Qur’an secara logika, adalah tidak lebih dari sekedar mengetahui yang gaib, melalui pengambilan kesimpulan dan yang diketahui. Dengan demikian Al-Qur’an memerintahkan kepada manusia agar mempelajari pilsafat, karena manusia harus membuat spekulasi atas alam raya ini dan merenungkan segala sesuatu yang ada.
Definisi filsafat yang dikemukakan Al-kindi diatas, yaitu ilmu untuk mencapai kepada kebenaran atau hakikat, pengetahuan tentang hakikat ialah pengetahuan tentang Tuhan, tentang kemaujudan lainnnya, dan tetang kebahagiaan serta kesensaraan diakhirat. Untuk memperoleh pengetahuan tersebut ada dua cara, yaitu penerapan dan persesuan.
Selanjutnya jika para pilosop diatas berpendapat bahwa filsafat tidak boleh sampai ketangan orang awam, maka Al- gazali lebih dari itu, ia mengatakan bahwa teologi pun tidak boleh disampaikan kepada orang awam, karena menurutnya, bukan hanya fiilsafat yang dapat mengacaukan keyakinan orang awam, tetapi ilmi kalam pun bisa membuat imam seseorang menjadi kacau, ini berarti bahwa Al-gazali tidak mengannggap teologi atau ilmu kalam sebagai ilmu murni islam, tetapi juga ilmu islam yang berbau filsafat, karena dalam membangun ajaran-ajarannya, seperti yang diperlihatkan oleh kaum Mu’ tazilah ternyata memakai logika rasional yang demikian kuat. Pendapat bahwaa teologi bukan ilmu islam murni juga dianut oleh para ahli ilmu kalam pada umumnya.
C. Keterkaitan Ilmu Kalam dan Tasawuf
Ilmu kalam merupakan disiplin ilmu keislaman yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan. Persoalan-persoalan kalam ini biasanya mengarah sampai pada perbincangan yang mendalam dengan dasar-dasar argumentasi, baik rasional (aqliyah) maupun naqliyah. Argumentasi rasional yang dimaksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berfikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliyah biasanya bertendensi pada argumentasi berupa dalil-dalil alquran dan hadis. Ilmu kalam sering menempatkan diri pada kedua pendekatan ini (aqli dan naqli), tetapi dengan metode-metode argumentasi yang di alektik. Jika pembicaraan kalam tuhan ini berkisar pada keyakinan-keyakinan yang harus dipegang oleh umat islam, ilmu ini lebih spesifik mengambil bentuk sendiri dengan istilah ilmu tauhid atau ilmu ‘aqa’id.
Pembicaraan materi-materi yang tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak menyentuh dzauq (rasa rohaniah) sebagai contoh, ilmu tauhid menerangkan bahwa allah bersifat sama’ (mendengar), bashar (melihat), kalam (berbicara), iradah (berkemauan),qudrah (kuasa), hayat (hidup) dan sebagainya. Namun, ilmu kalam atau ilmu tauhid tidak menjelaskan bagaimanakah seseorang hamba dapat merasakannya langsung bahwa allah mendengar dan melihatnya; bagaimana pula perasaan hati seseorang ketika membaca alquran; dan bagaimana sesorang merasa bahwa segala sesuatu yang tercipta merupakan pengaruh dari qudrah (kekuasaan) Allah?
Pertanyaan-pertanyaan diatas sulit terjawab dengan hanya melandaskan diri pada ilmu tauhid atau ilmu kalam.biasanya, yang membicarakan penghayatan sampai pada penanaman kejiwaan manusia adalah ilmu tasawuf. Disiplin inilah yang membahas bagaimana merasakan nilai-nilai aqidah dengan memperhatikan bahwa persoalan tadzawwuq (bagaimana merasakan) tidak termasuk dalam lingkup hal yang sunnah atau yang dianjurkan, tetapi termasuk hal yang diwajibkan.
As-sunnah memberikan perhatian yang begitu besar terhadap masalah tadzawwuq, seperti hadis rasul:
ذاق طعم الاءيمان من رضي بالله ربا وبالاءسلام دينا وبمحمدرسولا
Artinya; yang merasakan rasanya iman adalah orang yang rida kepada allah sebagai tuhan ,rida kepada islam sebagai agama dan rida kepada muhammad sebagai rasul
Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan definisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Sementara pada ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman, sebagai mana dijelaskan juga disitu tentang menyelamatkan diri dari kemunafikan. Semua itu tidak cukup hanya diketahui batasan-batasannya oleh seseorang. Sebab, terkadang seseorang sudah tahu batasan-batasan kemunafikan, tetapi tetap saja melaksanakannya. Allah berfirman:
قَالَتِ ٱلْأَعْرَابُ ءَامَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا۟ وَلَٰكِن قُولُوٓا۟ أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ ٱلْإِيمَٰنُ فِى قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَٰلِكُمْ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya;”orang-orang badui itu berkata ‘kami telah beriman’ katakanlah ,kamu belum beriman,’tapi katakanlah ,’kami telah berislam (tunduk).’karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”
Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf mempunyai fungsi sebagai beriku:
1. Sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam. Penghayatan yang mendalam lewat hati (dzauq dan wijdan) terhadap ilmu tauhid atau ilmu kalam menjadikan ilmu ini lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian, ilmu tasawuf merupakan penyempurna ilmu tauhid jika dilihat dari sudut pandang bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi terapan rohaniah dari ilmu tauhid.
2. Berfungsi sebagai pengendali ilmu tasawuf. Oleh karena itu, jika timbul suatu aliran yang bertentangan dengan akidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan al-quran dan as-sunnah, hal itu merupakan penyimpangan atau penyelewengan. Jika bertentangan atau tidak pernah diriwayatkan dalam alquran dan as-sunnah, atau belum pernah diriwayatkan oleh ulama-ulama salaf, hal itu harus ditolak.
3. Berfungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan-perdebatan kalam. Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung muatan rasional disamping muatan naqliyah. Jika tidak diimbangi dengan kesadaran rohaniah, ilmu kalam dapat bergerak kearah yang lebih liberal dan bebas. Disinilah ilmu tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga ilmu kalam tidak dikesani sebagai dialektika keislaman belaka, yang kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan secara qalbiyah (hati)
Bagaimanapun, amalan-amalan tasawuf mempunyai pengaruh besar dalam ketauhidan. Jika rasa sabar tidak ada, misalnya munculah kekufuran. Jika rasa syukur sedikit, lahirlah suatu bentuk kegelapan sebagai reaksi. Begitu juga ilmu tauhid dapat memberi kontribusi kepada ilmu tasawuf. Sebagai contoh, jika cahaya tauhid telah lenyap, akan timbulah penyakit-penyakit qolbu seperti ujub, congkak, riya’, hasud, dan sombong. Andai kata manusia sadar bahwa allah lah yang memberi, niscaya rasa hasud dan dengki akan sirna. Kalau saja dia tau kedudukan penghambaan diri, niscaya tidak akan ada rasa sombong dan membanggakan diri. Kalau saja manusia sadar bahwa dia betul-betul hamba allah, niscaya tidak akan ada perebutan kekuasaan. Kalau saja manusia sadar bahwa allah lah pencipta segala sesuatu, niscaya tidak akan ada sifat ujub dan riya’. Dari sinilah dapat dilihat bahwa ilmu tauhid merupakan jenjang pertama dalam pendakian menuju allah (pendakian para kaum sufi).
Untuk melihat lebih lanjut hubungan antara ilmu tasawuf dan ilmu tauhid alangkah baiknya melihat paparan al-ghazali dalam bukunya yang berjudul asma’ al-husna’, al-ghazali menjelaskan dengan baik persoalan tauhid kepada allah, terutama ketika menjelaskan nama-nama allah, materi pokok ilmu tauhid. Nama tuhan ar-rahman dan ar-rahim menurutnya, pada aplikasi rohaniahnya merupakan sebuah sifat yang harus diteladani. Jika sifat ar-rahman diaplikasikan, seseorang akan memandang orang yang durhaka dengan kelembutan bukan kekasaran; melihat orang dengan mata rahim, bukan dengan mata yang menghina, bahkan ia mencurahkan kerahimannya kepada orang yang durhaka agar dapat diselamatkan. Jika melihat orang lain menderita atau sakit, orang yang rahim akan segera menolongnya. Nama lain allah yang patut diteladani adalah al-qudus (maha suci). Seorang hamba akan suci kalau berhasil membebaskan pengetahuan dan kehendaknya dari hayalan dan segala persepsi yang dimiliki binatang.
Dengan ilmu tasawuf, semua persoalan yang berada dalam kajian ilmu tauhid terasa lebih bermakna, tidak kaku, tetapi akan lebih dinamis dan aplikatif .
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dapat Disimpulkan Bahwa Hubungan Ilmu Kalam Dengan Filsafat Adalah:
- Ilmu Filsafat adalah dasar dari
pengetahuan atau cara berpikir sedangkan ilmu kalam sudah spesifik
membahas kajian dengan obyeknya adalah agama atau ketuhanan
- Ilmu Kalam membutuhkan ilmu lain untuk memprosesnya, dengan filsafat maka kita dapat memahami bahwa suatu realitas memiliki eksistensi, fungsi, nilai, kedudukan, hubungan sebab akibat, hubungan dengan realitas lain dsb
- Ilmu Filsafat adalah ilmu dasar yang sifatnya umum, tidak akan berfungsi jika tidak ada kajian atau objek yang diteliti. Maka itu seperti rukun islam , rukun iman , Fungsi Iman Kepada Kitab Allah, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, dan Fungsi Al-quran Bagi Umat Manusia tentu membutuhkan ilmu kalam memahaminya secara spesifik.
- Ilmu Kalam sudah spesifik membahas agama dan ketuhanan sedangkan filsafat berkaitan dengan realitas secara umum
Dapat di simpulkan Hubungan ilmu kalam dengan tasawuf adalah;
Dalam
kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf mempunyai fungsi sebagai beriku:
Sebagai
pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam. Penghayatan yang mendalam
lewat hati (dzauq dan wijdan) terhadap ilmu tauhid atau ilmu kalam menjadikan
ilmu ini lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian,
ilmu tasawuf merupakan penyempurna ilmu tauhid jika dilihat dari sudut pandang
bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi terapan rohaniah dari ilmu tauhid.Berfungsi
sebagai pengendali ilmu tasawuf. Oleh karena itu, jika timbul suatu aliran yang
bertentangan dengan akidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan
dengan al-quran dan as-sunnah, hal itu merupakan penyimpangan atau
penyelewengan. Berfungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam
perdebatan-perdebatan kalam. Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam
dunia islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung muatan rasional
disamping muatan naqliyah. Jika tidak diimbangi dengan kesadaran rohaniah, ilmu
kalam dapat bergerak kearah yang lebih liberal dan bebas. Disinilah ilmu
tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga ilmu kalam tidak dikesani
sebagai dialektika keislaman belaka, yang kering dari kesadaran penghayatan
atau sentuhan secara qalbiyah (hati).
DAFTAR PUSTAKA.
Mulyono dan bashori,2010 Studi Ilmu Tauhid/Kalam, Malang :UIN Maliki Press.
Abuddin Nata.2001, Ilmu Kalam, Filsafat Dan Tasawuf. Jakarta: PT RajaGrafindo persada.
Solihin dan rosihon anwar , 2008, ilmu tasawuf , Bandung: cv pustaka setia
Komentar
Posting Komentar