keterkaitan ilmu tasawuf dengan ilmu kalam,fiqih,filsafat dan jiwa


BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
            Sebagai sebuah disiplin ilmu keislaman ,tasawuf tidak dapat lepas dari keterkaitannya dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya ,seperti ilmu kalam dan fiqh. Bahkan ,tasawuf juga tidak dapat lepas dari keterkaitannya dengan filsafat.untuk melihat lebih jauh tentang keterkaitan ilmu tasawuf dengan ilmu-ilmu tersebut untuk itulah akan kita bahas dalam makalah ini

B.Rumusan Masalah
1.      Bagaimana keterkaitan ilmu tasawuf dengan ilmu kalam?
2.      Bagaimana keterkaitan ilmu tasawuf dengan fiqh?
3.      Bagaimana keterkaitan ilmu tasawuf dengan filsafat?
4.      Bagaimana keterkaitan ilmu tasawuf dengan jiwa?

C.Tujuan  
1.      Untuk mengetahui keterkaitan ilmu tasawuf dengan ilmu kalam
2.      Untuk mengetahui keterkaitan ilmu tasawuf dengan fiqh
3.      Untuk mengetahui keterkaitan ilmu tasawuf dengan filsafat
4.      Untuk mengetahui keterkaitan ilmu tasawuf dengan jiwa







BAB II
PEMBAHASAN

A.Keterkaitan Ilmu Tasawuf Dengan Ilmu Kalam
Ilmu kalam merupakan disiplin ilmu keislaman yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan. Persoalan-persoalan kalam ini biasanya mengarah sampai pada perbincangan yang mendalam dengan dasar-dasar argumentasi, baik rasional (aqliyah) maupun naqliyah. Argumentasi rasional yang dimaksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berfikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliyah biasanya bertendensi pada argumentasi berupa dalil-dalil alquran dan hadis. Ilmu kalam sering menempatkan diri pada kedua pendekatan ini (aqli dan naqli), tetapi dengan metode-metode argumentasi yang di alektik. Jika pembicaraan kalam tuhan ini berkisar pada keyakinan-keyakinan yang harus dipegang oleh umat islam, ilmu ini lebih spesifik mengambil bentuk sendiri dengan istilah ilmu tauhid atau ilmu ‘aqa’id.
Pembicaraan materi-materi yang tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak menyentuh dzauq (rasa rohaniah) sebagai contoh, ilmu tauhid menerangkan bahwa allah bersifat sama’ (mendengar), bashar (melihat), kalam (berbicara), iradah (berkemauan),qudrah (kuasa), hayat (hidup) dan sebagainya. Namun, ilmu kalam atau ilmu tauhid tidak menjelaskan bagaimanakah seseorang hamba dapat merasakannya langsung bahwa allah mendengar dan melihatnya; bagaimana pula perasaan hati seseorang ketika membaca alquran; dan bagaimana sesorang merasa bahwa segala sesuatu yang tercipta merupakan pengaruh dari qudrah (kekuasaan) Allah?
Pertanyaan-pertanyaan diatas sulit terjawab dengan hanya melandaskan diri pada ilmu tauhid atau ilmu kalam.biasanya, yang membicarakan penghayatan sampai pada penanaman kejiwaan manusia adalah ilmu tasawuf. Disiplin inilah yang membahas bagaimana merasakan nilai-nilai aqidah dengan memperhatikan bahwa persoalan tadzawwuq (bagaimana merasakan) tidak termasuk dalam lingkup hal yang sunnah atau yang dianjurkan, tetapi termasuk hal yang diwajibkan.
As-sunnah memberikan perhatian yang begitu besar terhadap masalah tadzawwuq, seperti hadis rasul:
ذاق طعم الاءيمان من رضي بالله ربا وبالاءسلام دينا وبمحمدرسولا
Artinya; yang merasakan rasanya iman adalah orang yang rida kepada allah sebagai tuhan ,rida kepada islam sebagai agama dan rida kepada muhammad sebagai rasul
Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan definisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Sementara pada ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman, sebagai mana dijelaskan juga disitu tentang menyelamatkan diri dari kemunafikan. Semua itu tidak cukup hanya diketahui batasan-batasannya oleh seseorang. Sebab, terkadang seseorang sudah tahu batasan-batasan kemunafikan, tetapi tetap saja melaksanakannya. Allah berfirman:
قَالَتِ ٱلْأَعْرَابُ ءَامَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا۟ وَلَٰكِن قُولُوٓا۟ أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ ٱلْإِيمَٰنُ فِى قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَٰلِكُمْ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya;”orang-orang badui itu berkata ‘kami telah beriman’ katakanlah ,kamu belum beriman,’tapi katakanlah ,’kami telah berislam (tunduk).’karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”
Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf mempunyai fungsi sebagai beriku:
1.      Sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam. Penghayatan yang mendalam lewat hati (dzauq dan wijdan) terhadap ilmu tauhid atau ilmu kalam menjadikan ilmu ini lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian, ilmu tasawuf merupakan penyempurna ilmu tauhid jika dilihat dari sudut pandang bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi terapan rohaniah dari ilmu tauhid.
2.      Berfungsi sebagai pengendali ilmu tasawuf. Oleh karena itu, jika timbul suatu aliran yang bertentangan dengan akidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan al-quran dan as-sunnah, hal itu merupakan penyimpangan atau penyelewengan. Jika bertentangan atau tidak pernah diriwayatkan dalam alquran dan as-sunnah, atau belum pernah diriwayatkan oleh ulama-ulama salaf, hal itu harus ditolak.
3.      Berfungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan-perdebatan kalam. Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung muatan rasional disamping muatan naqliyah. Jika tidak diimbangi dengan kesadaran rohaniah, ilmu kalam dapat bergerak kearah yang lebih liberal dan bebas. Disinilah ilmu tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga ilmu kalam tidak dikesani sebagai dialektika keislaman belaka, yang kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan secara qalbiyah (hati)

             Bagaimanapun, amalan-amalan tasawuf mempunyai pengaruh besar dalam ketauhidan. Jika rasa sabar tidak ada, misalnya munculah kekufuran. Jika rasa syukur sedikit, lahirlah suatu bentuk kegelapan sebagai reaksi. Begitu juga ilmu tauhid dapat memberi kontribusi kepada ilmu tasawuf. Sebagai contoh, jika cahaya tauhid telah lenyap, akan timbulah penyakit-penyakit qolbu seperti ujub, congkak, riya’, hasud, dan sombong. Andai kata manusia sadar bahwa allah lah yang memberi, niscaya rasa hasud dan dengki akan sirna. Kalau saja dia tau kedudukan penghambaan diri, niscaya tidak akan ada rasa sombong dan membanggakan diri. Kalau saja manusia sadar bahwa dia betul-betul hamba allah, niscaya tidak akan ada perebutan kekuasaan. Kalau saja manusia sadar bahwa allah lah pencipta segala sesuatu, niscaya tidak akan ada sifat ujub dan riya’. Dari sinilah dapat dilihat bahwa ilmu tauhid merupakan jenjang pertama dalam pendakian menuju allah (pendakian para kaum sufi).
            Untuk melihat lebih lanjut hubungan antara ilmu tasawuf dan ilmu tauhid alangkah baiknya melihat paparan al-ghazali dalam bukunya yang berjudul asma’ al-husna’, al-ghazali menjelaskan dengan baik persoalan tauhid kepada allah, terutama ketika menjelaskan nama-nama allah, materi pokok ilmu tauhid. Nama tuhan ar-rahman dan ar-rahim menurutnya, pada aplikasi rohaniahnya merupakan sebuah sifat yang harus diteladani. Jika sifat ar-rahman diaplikasikan, seseorang akan memandang orang yang durhaka dengan kelembutan bukan kekasaran; melihat orang dengan mata rahim, bukan dengan mata yang menghina, bahkan ia mencurahkan kerahimannya kepada orang yang durhaka agar dapat diselamatkan. Jika melihat orang lain menderita atau sakit, orang yang rahim akan segera menolongnya. Nama lain allah yang patut diteladani adalah al-qudus (maha suci). Seorang hamba akan suci kalau berhasil membebaskan pengetahuan dan kehendaknya dari hayalan dan segala persepsi yang dimiliki binatang.
            Dengan ilmu tasawuf, semua persoalan yang berada dalam kajian ilmu tauhid terasa lebih bermakna, tidak kaku, tetapi akan lebih dinamis dan aplikatif.
B.Keterkaitan Ilmu Tasawuf Dengan Ilmu Fiqh   
            Biasanya, pembahasan kitab-kitab fiqh selalu dimulai dari thaharah (tata cara bersuci) kemudian persoalan-persoalan ke fiqihan lainya. Namun, pembahasan ilmu fiqih tentang thaharah atau lainnya tidak secara langsung terkait dengan pembicaraan nilai-nilai rohaniahnya. Padahal, thaharah akan terasa lebih bermakna jika disertai pemahaman rohaniahnya.
            Persoalan sekarang, disiplin ilmu apakah yang dapat menyempurnakan ilmu fiqh dalam persoalan-persoalan tersebut?ilmu tasawuf tampaknya merupakan jawaban yang paling tepat karena ilmu ini berhasil memberikan corak batin terhadap ilmu fiqh. Corak batin yang dimaksud adalah seperti ikhlas dan khusyuk berikut jalannya masing-masing. Bahkan, ilmu ini mampu menumbuhkan kesiapan manusia untuk melaksanakan hukum-hukum fiqh. Alasanya, pelaksanaan kewajiban manusia tidak akan sempurna tanpa perjalanan rohaniah.
            Makrifat secara rasa (al-ma’rifat adz-dzauqiyyah) terhadap allah melahirkan hukum-hukumnya secara sempurna. Dari sinilah dapat diketahui kekeliruan pendapat yang menuduh perjalanan menuju allah (dalam tasawuf) sebagai tindakan melepaskan diri dari hukum-hukum allah sebab, allah sendiri telah berfirman:
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
 Terjemah Arti: Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.

            Berkaitan dengan persoalan ini Al-junaid seperti dikutip sa’id hawwa menuduh sesat golongan yang menjadikan wushul (mencapai) allah sebagai tindakan untuk melepaskan diri dari hukum-hukum syariat. Lebih tegas, ia mengatakan, “betul mereka sampai, tetapi keneraka saqar”.
            Dahulu para ahli fiqh mengatakan, “barang siapa mendalami fiqh, tetapi belum bertasawuf, berarti ia fasik; barang siapa bertasawuf, tetapi belum mendalami fiqh, berarti ia zindiq; dan barang siapa melakukan keduanya, berarti ia ber-tahaqquq (melakukan kebenaran)”. Tasawuf dan fiqh adalah dua disiplin ilmu yang saling menyempurnakan jika terjadi pertentangan antara keduanya, berarti disitu terjadi kesalahan dan penyimpangan. Maksudnya, boleh jadi seorang sufi berjalan tanpa fiqh atau menjauhi fiqh, atau seorang ahli fiqh tidak mengamalkan ilmunya.
            Jadi, seorang ahli fiqh harus bertasawuf. Sebaliknya , seorang ahli tasawuf (sufi) pun harus mendalami dan mengikuti aturan fiqh. Tegasnya, seorang fiqh harus mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan hukum dan yang berkaitan dengan tata cara pengamalannya. Seorang sufi pun harus mengetahui aturan-aturan hukum dan sekaligus mengamalkannya. Syekh ar-rifa’i berkata, “sebenarnya tujuan akhir para ulama dan para sufi adalah satu”. Pernyataan ar-rifa’i perlu dikemukakan sebab beberapa sufi yang terkelabui selalu menghujat setiap orang dengan perkataan, “orang yang tidak memiliki syekh, maka syekh nya adalah setan”. Ungkapan ini diungkapkan seorang sufi bodoh yang berpropaganda untuk syekhnya atau dilontarkan oleh sufi keliru yang tidak tahu bagaimana seharusnya menundukan tasawuf pada tempat yang sebenarnya.
            Para pengamat ilmu tasawuf mengakui bahwa orang yang telah berhasil menyatukan tasawuf dengan fiqh adalah al-ghazali. Kitab ihya’ ulum ad-din-nya dapat dipandang sebagai kitab yang mewakili dua disiplin ini, disamping disiplin ilmu lainnya seperti ilmu kalam dan filsafat.
            Paparan diatas telah dijelaskan bahwa ilmu tasawuf dan ilmu fiqh adalah dua disiplin yang saling melengkapi. Setiap orang harus menempuh keduanya, dengan catatan bahwa kebutuhan perseorangan terhadap kedua disiplin ilmu ini sangat beragam sesuai dengan kadar kualitas ilmunya. Dari sini dapat dipahami bahwa ilmu fiqh, yang terkesan sangat formalistik lahiriyah, menjadi sangat kering dan kaku serta tidak mempunyai makna yang berarti bagi penghambaan seseorang jika tidak diisi dengan muatan kesadaran rohaniah yang dimiliki oleh tasawuf.begitu juga sebaliknya, tasawuf akan terhindar dari sikap-sikap merasa suci sehingga tidak perlu lagi memperhatikan kesucian lahir yang diatur dalam fiqh.
C. Keterkaitan Ilmu Tasawuf Dengan Filsafat
            Ilmu tasawuf yang berkembang di dunia islam tidak dapat dinafikan sebagai sumbangan pemikiran kefilsafatan. Ini dapat dilihat, misalnya dalam kajian-kajian tasawuf yang berbicara tentang jiwa. Secara jujur, harus diakui bahwa terminologi jiwa dan roh itu merupakan terminologi yang banyak dikaji dalam pemikiran-pemikiran filsafat. Sederatan intelektual muslim ternama juga banyak mengkaji jiwa dan roh, diantaranya adalah Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Ghazali.
            Kajian-kajian mereka tentang jiwa dalam pendekatan kefilsafatan ternyata banyak memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kesempurnaan kajian tasawuf dalam dunia islam. Pemahaman tentang jiwa dan roh itu sendiri menjadi hal yang esensial dalam tasawuf. Kajian-kajian kefilsafatan tentang jiwa dan roh kemudian banyak dikembangkan dalam tasawuf. Namun, perlu juga dicatat bahwa istilah yang lebih banyak dikembangkan dalam tasawuf adalah istilah qalb (hati). Istilah qalb ini memang lebih spesifik dikembangkan dalam tasawuf. Namun, tidak berarti bahwa istilah qalb tidak berpengaruh dengan roh dan jiwa.
            Menurut sebagian ahli tasawuf, an-nafs (jiwa) adalah roh setelah bersatu dengan jasad. Penyatuan roh dengan jasad melahirkan pengaruh yang ditimbulkan oleh jasad terhadap roh. Pengaruh-pengaruh ini akhirnya memunculkan kebutuhan-kebutuhan jasad yang dibangun roh. Jika jasad tidak memiliki tuntutan-tuntutan yang tidak sehat dan disitu tidak terdapat kerja pengekangan nafsu, sedangkan kalbu (qalb, hati ) tetap sehat, tuntutan-tuntutan jiwa terus berkembang sedangkan jasad menjadi binasa karena melayani jiwa. [1]
Ilmu tasawuf sangat erat kaitannya dengan ilmu filsafat menurut Tiswani dalam bukunyaBuku Daras Akhlak Tasawuf menyatakan :
1.                       Ilmu filsafat memberikan penjelasan terhadap terminologi-terminologi yang digunakan dalam tasawuf.
2.                       Ilmu tasawuf dan ilmu filsafat sama-sama mempunyai tujuan yakni mencari kebenaran sejati atau kebenaran tertinggi.
3.                       Ilmu filsafat lebih menitikberatkan pada teori, sedangkan ilmu tasawuf  pada aplikasi.
4.                       Tasawuf landasannya berpijak dan bertolak dari perasaan sedangkan filsafat landasannya berpijak pada rasio dan kepandaian menggunakan akal pikiran.[2]
                                                 
D. Hubungan Tasawuf Dengan Ilmu Jiwa ( Transpersonal Psikologi )
Apakah jiwa? Ini adalah suatu pertanyaan ,yang rasulullah sendiri dilarang (oleh allah) untuk menjelaskan kepada orang-orang yang dipekirakan tidak mampu untuk menerimanya sedang yang mampu untuk memahaminya tentu larangan tersebut tidak berlaku.jiwa tidak sama dengan sesuatu yang di tumpahkan kedalam jasad sebagaimana air yang di tumpahkan kedalam bajana ,juga bukanlah  perpanjangan dari sesuatu yang ada didalam hati otak ,sebagaimana hitamnya benda yang hitam  atau pengetahuan pada orang yang mengetahui ,sebaliknya ia adalah esensi yang mengetahui dirinya sendiri dan sang maha pencipta,serta mampu menelusuri sebab serta akibat atau asal-muasalnya.[3]
Ilmu jiwa agama adalah  sebagai salah satu cabang ilmu jiwa yang masih relatif  baru mempunyai dua bidang pengetahuan yang berbeda antara yang satu dengan yang lain .sebagian harus tunduk kepada agama sedangkan yang lain tunduk kepada  ilmu jiwa agama.
Ilmu jiwa adalah suatu ilmu pengetahuan  yang mempelajari  semua aspek perilaku manusia  yang di tinjau dari semua sudut serta menyajikan prinsip-prinsip elementer,esensial dan universal[4].
            Dalam percakapan sehari-hari, orang banyak mengaitkan tasawuf dengan unsur kejiwaan dalam diri manusia. Hal ini cukup beralasan, mengingat dalam substansi pembahasannya, tasawuf selalu membicarakan persoalan-persoalan yang berkisar pada jiwa manusia. Hanya saja, dalam jiwa yang dimaksud adalah jiwa manusia muslim, yang tentunya tidak lepas dari sentuhan-sentuhan keislaman. Dari sinilah, tasawuf kelihatan identik dengan unsur kejiwaan manusia muslim.
            Mengingat adanya hubungan dan relevansi yang sangat erat antara spiritualitas (tasawuf) dan ilmu jiwa, terutama ilmu kesehatan mental, kajian tasawuf tidak dapat lepas dari kajian tentang kejiwaan manusia itu sendiri.
            Dalam pembahasan tasawuf dibicarakan tentang hubungan jiwa dengan badan. Yang dikehendaki dari uraian tentang hubungan antara jiwa dan badan dalam tasawuf tersebut adalah terciptanya keserasian antara keduanya. Pembahasan tentang jiwa dan badan ini dikonsepsikan para sufi dalam rangka melihat sejauh mana hubungan perilaku yang dipraktikan manusia dengan dorongan yang dimunculkan jiwanya sehingga perbuatan itu dapat terjadi. Dari sini, baru muncul kategori-kategori perbuatan manusia. Apakah dikategorikan sebagai perbuatan jelek atau perbuatan baik.jika perbuatan yang ditampilkan seseorang baik, ia disebut orang yang berakhlak baik. Sebaliknya, jika perbuatan yang ditampilkannya jelek, ia disebut sebagai orang yang berakhlak jelek.
            Dalam pandangan kau sufi akhlak dan sifat seseorang bergantung pada jenis jiwa yang berkuasa atas dirinya. jika yang berkuasa dalam tubuhnya adalah nafsu-nafsu hewani atau nabati, yang akan tampil dalam perilakunya adalah perilaku hewani atau nabati pula. Sebaliknya jika yang berkuasa nafsu insani, yang akan tampil dalam perilakunya adalah perilaku insani pula.
            Kalau para sufi menekankan unsur kejiwaan dalam konsepsi tentang manusia, dapat pula berarti bahwa hakikat, zat, dan inti kehidupan manusia terletak pada unsur spiritual atau kejiwaanya. Ditekankanya unsur jiwa dalam konsepsi tasawuf tidaklah berarti para sufi mengabaikan unsur jasmani manusia. Unsur ini juga mereka pentingkan karena rohani sangat memerlukan jasmani dalam melaksanakan kewajibannya beribadah kepada allah dan menjadi khalifahnya dibumi. Seseorang tidak akan sampai kepada allah dan beramal dengan baik dan sempurna selama jasmaninya tidak sehat. Kehidupan jasmani yang sehat merupakan jalan kepada kehidupan rohani yang baik. Pandangan kau sufi mengenai jiwa erat hubungannya dengan ilmu kesehatan mental. Ilmu kesehatan mental ini merupakan bagian dari ilmu jiwa (psikologi).
            Dalam masyarakat belakangan ini, istilah mental tidak asing lagi. Orang-orang sudah dapat menilai apakah seseorang itu baik mentalnya atau tidak. Dalam ilmu psikiatri dan psikotrapi, kata mental sering digunakan sebagai nama lain kata personality (kepribadian) yang berarti bahwa mental adalah semua unsur jiwa yang termasuk pikiran, emosi, sikap, dan perasaan yang dalam keseluruhan dan kebulatannya akan menentukan corak laku, cara menghadapi suatu hal yang menekankan perasaan, mengecewakan atau mengembirakan, menyenangkan dan sebagainya.
            Masalah mental ini begitu menarik perhatian para ahli pskologi terutama dinegara-negara maju sehingga mereka telah dapat melakukan penelitian-penelitian ilmiah yang menghubungkan antara kelakuan dan keadaan mental. Mereka telah menemukan hasil-hasil yang memberikan kesimpulan tegas, yang membagi manusia pada dua golongan besar yakni golongan yang sehat dan golongan yang kurang sehat.
            Orang yang sehat mentalnya adalah yang mampu merasakan kebahagiaan dalam hidup, karena orang-orang inilah yang dapat merasakan bahwa dirinya berguna, berharga, dan mampu menggunakan segala potensi dan bakatnya semaksimal mungkin dengan cara yang membawa kebahagiaan dirinya dan orang lain. Disamping itu, ia mampu menyesuaikan diri dalam arti yang luas terhindar dari kegelisahan-kegelisahan dan gangguan jiwa, serta tetap terpelihara moralnya.
            Pada perilaku yang sehat mental akan tampak sebuah sikap yang tidak ambisius, sombong, rendah diri, dan apatis, tapi ia bersikap wajar, menghargai orang lain, merasa percaya kepada diri dan selalu gesit. Setiap tindakan nya ditunjukan untk mencari kebahagiaan bersama bukan kesenangan dirinya sendiri, kepandaian dan pengetahuan yang dimilikinya digunakan untuk manfaat dan kebahagiaan bersama. Kekayaan dan kekuasaan yang ada padanya bukan untuk bermegah-megah dan mencari kesenangan sendiri, tanpa memperdulikan orang lain tetapi digunakan untuk menolong orang miskin dan melindungi orang lemah.
            Sementara cakupan golongan yang kurang sehat mentalnya sangatlah luas, mulai yang paling ringan sampai yang paling berat. Dari orang yang merasa tergangguketentraman hatinya sampai pada orang yang sakit jiwa. Gejala-gejala umum yang tergolong orang yang kurang sehat dapat dilihat dalam beberapa segi, antara lain:
1.      Perasaan:yaitu perasaan terganggu, tidak tentram, rasa gelisah, tetapi tidak tentu yang digelisahkan, dan tidak dapat pula menghilangkannya. Rasa takut yang tidak masuk akal atau tidak jelas yang ditakuti (fobia) rasa iri, rasa sedih yang tidak beralasan, rasa rendah diri, sombong, suka bergantung kepada orang lain, tidak mau bertanggung jawab.
2.      Pikiran:gangguan terhadap kesehatan mental dapat pula mempengaruhi pikiran, misalnya anak-anak menjadi bodoh disekolah, pemalas, pelupa, suka membolos,dan tidak dapat konsentrasi. Demukian pula, orang dewasa mungkin merasa bahwa kecerdasannya telah merosot ia merasa kurang mampu melanjutkan sesuatu yang telah direncanaknnya baik-baik, mudah dipengaruhi orang lain, menjadi pemalas, dan apatis.
3.      Kelakuan:pada umumnya kelakuan-kelakuan yang tidak baik, seperti kenakalan, keras kepala, suka berdusta, menipu, menyeleweng, muncuri, menyiksa orang lain, membunuh, merampok, dan menyebabkan orang lain menderita serta haknya teraniaya, termasuk pula akibat dari keadaan mental yang terganggu kesehatannya.
4.      Kesehatan:jasmaninya dapat terganggu, bukan karena adanya penyakit yang betul-betul mengenai jasmani tetapi sakit akibat jiwa yang tidak tentram. Penyakit seperti ini disebut psyco-somatic. Diantara gejala penyakit ini, yang sering terjadi adalah sakit kepala merasa lemas, letih, sering masuk angin, tekanan darah tinggi atau rendah, jantung, sesak napas, sering pingsan(kejang), bahkan sampai sakit yang lebih berat,lumpuh sebagian anggota badan, dan lidah kelu. Yang penting adalah penyakit jasmani ini tidak mempunyai sebab-sebab fisik sama sekali.

Berbagai penyakit seperti dijelaskan diatas sesungguhnya akan timbul pada dirimanusia yang tidak tenang hatinya, yakni hati yang jauh dari tuhannya. Ketidak tenangan itu akan memunculkan penyakit-penyakit mental, yang pada gilirannya akan menjelma menjadi perilaku yang tidak baik dan menyeleweng dari norma-norma umum yang disepakati.
Harus diakui, memang jiwa manusia sering kali sakit. Ia tidak akan sehat sempurna tanpa melakukan perjalanan menuju allah dengan benar. Jiwa manusia juga membutuhkan perilaku (moral) yang luhur, sebab kebahagiaan tidak dapat diraih tanpa akhlak yang luhur, tidak dapat menjadi milik tanpa melakukan perjalanan menuju allah.
Bagi orang yang dekat dengan tuhannya, yang akan tampak dalam kepribadiannya adalah pribadi-pribadi yang tenag, dan perilakunya pun akan menampakan perilaku atau akhlak-akhlak yang terpuji. Semua ini bergantung pada kedekatan manusia dengan tuhannya. Adapun pola kedekatan manusia dengan tuhannya inilah yang menjadi garapan dalam tasawuf. Dari sinilah tampak keterkaitan erat antara ilmu tasawuf dan ilmu jiwa atau ilmu kesehatan mental[5].          
           






BAB III
PENUTUP

a.Kesimpulan
Ilmu kalam merupakan disiplin ilmu keislaman yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan.selanjutnya Tasawuf dan fiqh adalah dua disiplin ilmu yang saling menyempurnakan jika terjadi pertentangan antara keduanya, berarti disitu terjadi kesalahan dan penyimpangan. Maksudnya, boleh jadi seorang sufi berjalan tanpa fiqh atau menjauhi fiqh, atau seorang ahli fiqh tidak mengamalkan ilmunya.  Kajian-kajian kefilsafatan tentang jiwa dan roh kemudian banyak dikembangkan dalam tasawuf. Namun, perlu juga dicatat bahwa istilah yang lebih banyak dikembangkan dalam tasawuf adalah istilah qalb (hati). Istilah qalb ini memang lebih spesifik dikembangkan dalam tasawuf. Namun, tidak berarti bahwa istilah qalb tidak berpengaruh dengan roh dan jiwa.
Ilmu jiwa agama adalah  sebagai salah satu cabang ilmu jiwa yang masih relatif  baru mempunyai dua bidang pengetahuan yang berbeda antara yang satu dengan yang lain .sebagian harus tunduk kepada agama sedangkan yang lain tunduk kepada  ilmu jiwa agama.sedangkan Ilmu jiwa adalah suatu ilmu pengetahuan  yang mempelajari  semua aspek perilaku manusia  yang di tinjau dari semua sudut serta menyajikan prinsip-prinsip elementer,esensial dan universal.









DAFTAR PUSTAKA
Solihin dan Rosihon Anwar,2008,Ilmu Tasawuf,Bandung:pustaka setia
Sahib Khan khaja khan,1987,.cakrawala tasawuf,jakarta:CV.raja wali

Irham iqbal 2012,membangun moral bangsa melalui ahlak tasawuf,ciputat;pustaka al-ihsan

http://zikrullah21.blogspot.com/2016/12/makalah-hubungan-tasawuf-dengan-ilmu.html


[1] Sholihin dan rosihon anwar,ilmu tasawuf(bandung:cv pustaka setia)cet.1,hlm.95-104
[2] http://zikrullah21.blogspot.com/2016/12/makalah-hubungan-tasawuf-dengan-ilmu.html
[3] Khan sahib khaja khan,.cakrawala tasawuf,(jakarta:CV.raja wali,1987)cet.1,hlm.209
[4] Iqbal irham,membangun moral bangsa melalui ahlak tasawuf,(ciputat;pustaka al-ihsan)hal.128-129
[5] Sholihin dan rosihon anwar,ilmu tasawuf(bandung:cv pustaka setia)cet.1,hlm.104-108

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah psikologi pendidikan. Kecerdasan Manusia Dalam Belajar

Rumit

Desemberku